Mengais Rupiah Di Usia Senja

Usia tidak membatasinya untuk terus bekerja keras. Ngatiyem seorang penjual makanan keliling yang hidup sendirian diumurnya yang sudah tua dan harus mengais rezeki untuk memenuhi kehidupannya.

            Ia melangkahkan kaki menuju setiap gang-gang kecil dengan menggedong dagangannya. Tubuh yang sudah tak lagi muda dipaksanya untuk terus berjalan jauh. Kisah seorang nenek berusia 60 tahun yang tetap bersemangat untuk mencari rezeki dengan berkeliling dari kampung ke kampung dengan jarak yang lumayan jauh. Tetapi tidak ada sedikit pun rasa untuk mengeluh. Saat ditemui di kediamannya Bibis Baru Mbah Tress sapaan akrabnya membagikan kisahnya selama berjualan makanan keliling. Ia sebagai pedagang makanan keliling dari tahun 1990 an sampai sekarang ini waktu yang cukup lama sekali.

“Tahun, udah telongpuluh (30) taun mbak, sekitar sewu songo puluhan (1990) an. Pas krisis-krisisnya mencari uang,” ujarnya ketika diwawancarai.

Hidup sendirian tak ditemani oleh suami bahkan anak, mengharuskan Ngatiyem untuk berdagang diusia tuanya. Suaminya yang sudah tiada beberapa tahun yang lalu membuat Ngatiyem harus mengerjakan semuanya sendiri, di rumah tua yang beralaskan semen berdinding triplek atau kayu ia hidup sendirian. Ia berjualan sudah lama, sejak tahun 1990 an. Waktu itu ia masih ditemani oleh suaminya yaitu Mbah Sutrisno, tetapi sekarang ini ia hanya tinggal sendirian. Karena anak-anaknya sudah merantau di Jakarta. Anak-anaknya yang sudah berkeluarga dan merantau ke Jakarta membuat mbah Tress harus bekerja. Karena ia tidak mau merepotkan anaknya. Jarang sekali anaknya menengok untuk mengetahui keadaan mbah Tress.

“Sendirian, anak-anak di Jakarta mbak, di Jakarta juga cari uang kalau di sini cari pekerjakaan juga susah. Jarang apalagi ono virus iki mbak,” katanya.

            Kakinya yang mulai rapuh membuat ia sering merasakan sakit, wajarlah diusia senjanya ia harus berjalan jauh kemana saja. Seharusnya diusia seperti ini ia sudah istirahat untuk tidak bekerja dan menikmati masa tuanya. Tetapi kehidupan yang memaksanya untuk terus bergerak mencari rezeki. Ketika mbah Tres merasakan sakit biasanya ia libur berjualan dan meminta bantuan kepada tetangganya untuk menghantarkannya ke klinik atau dokter. Tetangganya yang iba menghantarkannya ke klinik. Setiap pulang dari klinik mbah Tres selalu memberikan uang kepada tetangganya untuk ucapan terima kasih, tetapi tetangganya menolak karena merasa kasihan dengan keadaan mbah Tres.

            Di pagi hari ia pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan. Mengenakan jarik, rambut yang digulung seperti konde, mata yang mulai rabun, dan pendengaran yang mulai menurun. Hal ini tak dihiraukannya ia terus saja berjalan ke pasar di tengah ramainya jalan raya yang membuat dia harus berhati-hati sekali ketika hendak menyebrang. Di Pasar ia sudah mengenal semua pedagang pasar, kadang terdapat pedagang yang merasakan kasihan dan memberikan harga miring kepada mbah Tres.

            Sepulangnya dari Pasar ia langsung meracik semua bahan untuk dijadikan makanan matang, setelah selesai diracik ia bergegas untuk mandi dan berjualan. Mbah Tres berjualan dari pukul 16.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB. Ia sering kali merasa sedih ketika pulang masih membawa dagangan yang cukup banyak,

“Ya sedih, wes dikelilingke ora ono yang beli,” katanya.

            Hidup hanya sendirian di kota besar dan harus mencari rezeki untuk memenuhi kehidupannya. Hal ini membuat para membelinya iba dan merasa kasihan terhadap Mbah Tress. Karena di usianya yang sudah menginjak kepala enam yang seharusnya ia sudah tidak bekerja tetapi harus bekerja untuk kebutuhan hidupnya.

Komariah selaku pelanggan Mbah Tress juga merasakan kasihan melihat nenek-nenek yang sudah tua harus berdagang dengan menggendong dagangannya.

“Sering beli gorengan mbak, ya kasihan makannya aku beli mbak. Udah tua jualan untuk memenuhi kebutuhannya nggak mau ngerepotin anak,” ujar Komariah.

Selvia_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *