Menelisik Karya Pram Laiknya Lintasan Waktu

Pada 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer (Pram) wafat di usia 81 tahun. Pergulatan hidupnya sedari kanak-kanak memikul senjata di era perang revolusi, hingga mendekam di jeruji besi oleh rezim orde baru karena dicap komunis.

Pram melakukan perlawanan nyaris sepanjang perjalanan hidupnya. Ucapan Nyai Ontosoroh kepada Minke dalam Bumi Manusia, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”, laiknya pernyataan hidup seorang Pram.

Personifikasi lainnya dapat kita temukan dari penggambaran tokoh-tokoh yang Pram cantumkan. A. Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia (1978), menjelaskan bahwa dalam menggambarkan tokoh-tokohnya, Pram ingin menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi negerinya.

Tokoh-tokoh berani dan bijaksana memberikan perasaan kasihan pada nasib mereka. Pemberian makna inilah yang membuat pembaca  memahami kenyataan yang telah Pram gambarkan.

Tak hanya pena saja yang menjadi teman hidup Pram, bedil pernah ia pikul tatkala bertugas sebagai perwira perhubungan di Divisi Siliwangi pada perang revolusi kemerdekaan. Ihwal demikian yang menjadi inspirasi untuk menggali kisah-kisah revolusi.

Seperti Pram kisahkan dalam Perburuan (1950)menceritakan kemanusiaan melalui Hardo dan Karmin, memunculkan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan sifat revolusi.

Jakob Sumarjo mengatakan bahwa Pram merupakan prosais ulung. Masalah-masalah yang dikupasnya kerap kali beririsan dengan kecintaannya terhadap keluarga dan kebenciaannya pada kebatilan manusia.

Semuanya ia tuangkan dalam sebuah karya fiksi yang padat, terdapat pengalaman manusia, haru-biru rasa kemanusiaan. Oleh karena itu tokoh-tokoh rekaannya kerap berkaitan dengan pribadi Pram sendiri.

Dari Bumi Manusia, Pram memaparkan bahwa melepaskan dari segala belenggu, seperti penolakan terhadap warisan budaya yang kolot, perlawanan atas ketidakadilan kekuasaan kolonial, maupun semangat membangun kebebasan dan kesejahteraan manusia.

Melalui kepribadian tokoh Minke, bentuk penyadaran mengenai persoalan kemanusiaan berkelindan dengan kebudayaan bangsa. Pram memberikan pandangan bahwa menghidupkan serta mengembangkan rasa cinta kasih harus berlandaskan keadilan.

Perlawanan Minke terhadap ketidakadilan feodalisme dan kolonialisme menjadi dasar pemikiran Pram tentang kemanusiaan.

Tak pelak, menyingkap karya-karya Pram akan menjumpai perasaan kemanusiaan yang lebih kuat. Rasa kemanusiaan inilah yang membuat penggambaran seorang pembaca memperlihatkan dunia sesungguhnya, yakni: kepalsuan, kekuatan, dan kelemahan.

Namun demikan, keyakinan pada ideologi kebangsaan tak melahirkan pada pemikiran chauvinistik atau fanatik.

Pram mempunyai keunikan, sebagai sastrawan ia menghadirkan tokoh-tokoh yang memiliki nilai sejarah yang kuat, misalnya, tokoh Minke dengan tokoh Tirto Adhisoerjo, pendiri Syarikat Priyayi serta bapak Pers Nasional.

Meski memiliki kemiripan, tokoh utama Minke secara keleluruhan tak serupa dengan Tirto Adhisoerjo. Minke merupakan tokoh rekaan yang lahir dari tokoh sejarah.

Pemilihan latar tempat dan waktu menjadi penentuan kepentingan yang hendak dicapai masa sekarang. Dari novel sejarah, Pram memperlihatkan masa lampau dengan mendasarkan fenomena masa kini, memberikan gambaran bahwa fiksi pun dapat digambarkan dengan sejarah.

Novel sejarah mempunyai fungsi tak dapat diabadikan, melainkan novel sejarah dapat membantu pembaca mengetahui asal-usul melalui pengalaman masa lalu penulisnya.

Sejatinya, sastra yang ideal dapat membangkitkan rasa kehidupan, melahirkan rasa keseluruhan hidup, dapat dihayati, menimbulkan gejolak emosi pembacanya. Dari Bumi Manusia mengingatkan bahwa kekuasaan kolonial yang menindas terjadi karena kelemahan bangsanya sendiri.

Meninggalkan warisan budaya lama yang menjadi penghambat, penindasan kolonial dapat diatasi.

Seturut penjelasan Pram, Tanah Air Indonesia dapat menjadi “Bumi Manusia”, yang menjadi panggung di mana manusia dapat memainkan perannya. Manusia menjadi kesatuan abadi selagi buminya tidak sirna.

Semua manusia pasti akan mati, tetapi manusia itu abadi. Jadi bumi manusia itu berbeda dengan bumi setan atau malaikat.  

Rynaldi Fajar_

Sumber Foto : Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.