Memanusiakan Kaum Perempuan

Perempuan, wanita, gadis, cewek, kaum hawa atau apapun sebutan lainnya, tidak akan memengaruhi kedudukan perempuan saat ini. Perempuan masih dipandang sebelah mata, masih tetap dianggap menjadi kaum yang posisinya berada dibawah pria. Banyak isu ketidakadilan yang dialami, seperti perbedaan pendapatan atau upah kerja, kesempatan menjadi pemimpin dan tokoh dalam masyarakat, atau bahkan kekerasan seksual yang dialami tanpa memandang waktu, tempat, dan kondisi. Kejadian seperti ini acap kali diterima oleh kaum perempuan. Tentu kasus-kasus ketidakadilan ini membawa berbagai dampak negatif bagi perempuan. Sebagai contoh, ketika perempuan mengalami kekerasan seksual, maka tidak hanya aspek jiwa yang terserang, namun juga segi fisik yang terluka. Bahkan bisa jadi mendapatkan respon yang buruk dari orang di sekitar.

Namun, ironisnya masyarakat Indonesia kurang memiliki kesadaran akan perempuan yang mengalami ketidakadilan ini meskipun sudah sangat banyak kasus yang berada di ruang publik. Di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, atau pun di televisi, koran, dan media yg lain seringkali berseliweran berita-berita tentang kejahatan kemanusiaan yang dialami oleh perempuan, sebut saja kasus Aghni yang baru-baru ini menjadi viral. Aghni merupakan seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yaitu Universitas Gadjah Mada. Dia mengalami sebuah kasus pelecehan seksual ketika berada di tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kasus ini cukup menggemparkan dunia akademik Indonesia, bagaimana bisa manusia-manusia yg menempuh jenjang pendidikan tinggi melakukan hal tidak layak seperti itu. Logika dan nalar manusia selalu berpikir semakin tinggi pendidikan yang ditempuh maka semakin bagus pula perilakunya dan bisa dijadikan contoh bukan malah sebaliknya. Namun, jika lelaki yang berpendidikan tinggi melakukannya, bagaimana dengan mereka yang memiliki pendidikan rendah?

Seperti kasus pelecehan terhadap buruh perempuan di sebuah pabrik di Jakarta Utara. Banyak kekerasan seksual yang terjadi, bahkan ketika sudah dibentuk posko pengaduan kekerasan seksual, masih saja marak kejahatan seksual di sana. Semisal, ketika kontrak kerja buruh perempuan di sana telah habis, maka mereka akan ditawari perpanjangan kontrak dengan meminta sesuatu yang tidak senonoh, tentu badan mereka yang menjadi bayarannya. Bukan hanya itu saja yang mereka alami, buruh perempuan di sana pun mengalami pelecehan seksual dari teman sesama buruh juga. Aduhai, betapa kejamnya tantangan yang dialami perempuan-perempuan ini untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup.

Tentu tidak hanya perempuan dengan fisik sempurna yang mengalami kekerasan seksual, bejatnya juga perempuan disabilitas terkadang menjadi korban. Bahkan yang mereka alami bisa lebih parah, mungkin karena mereka kesulitan mengungkapkannya, merasa rendah diri, atau mungkin merasa takut hingga akhirnya enggan untuk speak-up. Banyak sekali kasus yang berada di dunia maya. Seperti kasus perempuan berkebutuhan khusus yang hamil tanpa tahu siapa pelakunya, atau perempuan yang terpaksa menikah dengan pria yang memerkosanya dan tambah sialnya perempuan tersebut mengalami KDRT dalam pernikahan yang sebenarnya tidak diinginkan. Terkadang perempuan sakit jiwa pun menjadi korban, ini menjadi bukti nyata bahwa kekerasan seksual saat ini sudah semakin parah, tanpa rasa belas kasihan, dan tidak pernah memandang siapa korbannya. Perempuan dengan kondisi fisik dan mental yang sehat saja bisa mengalami kejahatan seksual, apalagi perempuan dengan kekurangan fisik dan mental.

Terkadang juga sesuatu sampai dianggap normal karena sebegitu seringnya terjadi di masyarakat saat ini, seperti cat-calling yaitu kegiatan menggoda orang yang lewat dengan siulan, panggilan, atau candaan tidak senonoh. Atau mungkin sebuah anggapan ketika ada kasus pemerkosaan yang salah adalah perempuan. Perempuan yang menjadi korban ini dituduh tidak menjaga tubuhnya dengan baik. Faktanya, tidak semua kasus pemerkosaan dan bentuk kekerasan seksual yang lain dialami oleh perempuan yang memakai pakaian terbuka. Ada banyak sekali wanita yang menutup auratnya dengan hijab pun mengalaminya.

Apakah kasus-kasus tersebut terjadi karena perempuan dianggap bukan manusia? Bukankah sebagai sesama manusia kita harus saling menghargai dan menghormati. Ketika perempuan dipandang sebagai manusia, maka tidak akan muncul hal-hal yang tidak senonoh. Alangkah indahnya bukan jika perempuan dilihat sebagai manusia, sebagai subjek, bukan sebagai objek atau benda yang bisa diperlakukan sebebasnya.

 

 

Silvia Rahmawati Nur Ramadhani

Pendidikan Bahasa Inggris

Universitas Sebelas Maret

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *