Memandang Kebijakan PPG Untuk Guru Profesional

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasionalyang jatuh pada hari Sabtu, tanggal 2 Mei  2015, Lingkaran Studi Pendidikan (LSP)  Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) FKIP UNS Surakarta mengadakan Seminar  Nasional Pendidikan dengan  tema “Implementasi Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah Kaitannya Dengan Penyelenggaraan PPG”. Acara dimulai pukul 09.00 WIB di aula lantai 2 gedung F FKIP UNS Surakarta, dengan mendatangkan tiga pembicara Arif Antono selaku staf khusus Ditnaga Dikti, Sugiaryo selaku ketua PGRI kota Surakarta dan Sajidan selaku Pembantu Dekan 1 FKIP UNS. Seminar tersebut dihadiri oleh kalangan mahasiswa strata 1, mahasiswa pascasarjana, dan umum.

Seminar dipandu oleh Heru Edi Kurniawan, sebagai moderator. Materi seminar pertama disampaikan oleh Arif Antono dengan judul materi “Menuju Indonesia Cerdas Bermartabat”. Dalam materinya, Arif menyampaikan bahwa pendidikan mengubah manusia menjadi etis dan berbudaya dalam berkehendak, berpikir, dan berperilaku. Arif melanjutkan, bermartabat sama hal dengan berkarakter, untuk menuju Indonesia cerdas bermartabat dengan Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) melalui Pendidikan Profesi Guru Terintegarasi (PPGT),  Pendidikan Profesi Guru Kolaboratif ( PPG Kolaboratif), Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Sugiaryo sebagai pemateri kedua, menyampaikan materi dengan judul “Pendidikan Guru Sebagai Meningkatkan Kompetensi Guru dan kualitas pendidikan”. “Sebagai pemegang jabatan profesi, maka dalam menjalankan tugas profesinya seorang guru harus profesional,” terang Sugiaryo. Guru yang mengikuti PPG nantinya akan menempuh 36 Satuan Kredit Semester (SKS) dalam kurun waktu dua tahun.

Pembicara ketiga, Sajidan, dengan judul materi “Paradigma Baru Pendidikan Guru Di LPTK Untuk Menyiapkan Guru Profesional Di Era Globalisasi”. Dalam pemaparannya Sajidan menjelaskan bagaimana menyiapkan guru profesional di era globalisasi. “LPTK memberlakukan sistem Magang dalam prakteknya. Tahapan magang ini ada 1, 2 dan 3, yang bertujuan membangun landasan jati diri pendidik dan menetapkan kompetensi akademik kependidikan”, ujar Sajidan.

_Zaidah

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *