Melihat Lebih Dekat

Sinar mentari berhasil masuk melalui celah jendela kamar. Mengusik tidur seorang gadis berambut pirang. Sedetik setelah berhasil membuka mata, tangan gadis itu langsung meraba sesuatu di meja samping kasurnya. Akhirnya ia mendapat apa yang dicari, sebuah ponsel berwarna gold. Hal ini sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang di zaman modern semacam ini.

Sudah 30 menit semenjak ia berhasil membuka mata, gadis itu belum juga beranjak dari kasur. Tangannya menari-nari di atas ponsel dan sesekali gadis itu menghela napas panjang. Dilihatnya foto-foto wanita modis bergaya kasual dengan jumlah like mencapai ratusan ribu. Kemudian ia melihat profil miliknya, dilihat hanya ada 1 foto dirinya dengan jumlah like tak mencapai seratus. Tak lama setelah itu, ia mengela napas panjang dan menutup aplikasi Instagram.

Jelita namanya, seorang mahasiswi tingkat 3 yang sedang libur semester. Tak banyak yang ia lakukan selama libur semester kali ini. Rutinitasnya setiap hari hanya sekadar membuka media sosial, mulai dari Whatsapp kemudian beralih ke Instagram setelah itu menonton Youtube, mengecek trending Twitter, sampai akhirnya kembali membuka Whatsapp lagi dan mengulang-ulang apa yang ia lakukan sebelumnya.

Hari ini sepertinya tidak ada hal yang akan berbeda bagi Jelita, selain bermain ponsel atau rebahan seharian. Liburan yang terasa membosankan baginya.

“Ta, kamu hari ini mau pergi nggak?” teriak seorang wanita paruh baya.
Jelita keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke arah sumber suara.
“Enggak buk, lagian mau kemana juga,” jawab Jelita sambil mengoleskan selai coklat pada selembar roti.
“Bagus, kalau gitu kamu ikut ibuk ya!” ajak Rike, ibunya Jelita.
“Enggak ah, mager, panas juga,” tolak Jelita.
“Lho-lho belum juga dikasih tahu mau kemana sudah bilang enggak. Ibuk bakal ajak kamu ke tempat yang bagus pokoknya,” rayu ibu Rike.

Sebenarnya Jelita sudah menolak dengan berbagai alasan ajakan ibunya itu, tetapi Ibu Rike berhasil membuat Jelita duduk di mobil bersama dengannya untuk pergi ke suatu tempat. Perjalanan menuju tempat yang dimaksud sangat jauh dari ekspektasi Jelita. Bukan jalanan yang diapit gedung-gedung tinggi, melainkan jalanan yang sepi dikelilingi pepohonan yang besar.

“Buk, ini sebenarnya mau ke mana sih?” Jelita mulai ngedumel.

Setelah 3 jam perjalanan, mobil hitam yang mereka tumpangi telah sampai di sebuah perdesaan kecil yang jauh dari pusat kota. Rike membangunkan Jelita yang tertidur. Mata Jelita terbuka dan speechless melihat apa yang ada di depannya.

Terlihat kumpulan anak-anak yang sepertinya sedang menunggu kehadiran seseorang. Jelita turun dari mobil mengikuti ibunya berjalan. Anak-anak itu dengan ramah menyambut kedatangan Jelita dan ibunya.

“Ibu Guru Rike, lama sekali datangnya!” ucap salah satu anak di sana.
“Maaf Dino, tadi di jalan macet,” jawab Rike.
“Bu guru, kakak ini siapa?” tanya seorang anak menunjuk ke Jelita.
“Ini Kak Jelita, anak ibu. Kak Jelita hari ini akan belajar bersama kita,” ucap Rike sambil tersenyum ke arah Jelita.

Jelita melonggo mendengar perkataan Ibunya dan tersenyum ke arah anak-anak yang ada di depannya.

“Anak-anak, sekarang kita mulai belajarnya ya!” ajak Ibu Rike yang tak lain merupakan seorang guru.

Selain mengajar di salah satu sekolah kota, ibu Rike juga tergabung dalam komunitas di mana mendapat kesempatan setiap hari Kamis mengajar anak-anak di sebuah desa dengan pendidikan yang kurang.

Jelita yang melihat ibunya sedang mengajar anak-anak yang belajar tanpa memakai seragam dan sepatu itu pun terdiam sejenak. Pikirannya seperti sedang diajak berpikir ulang tentang apa yang sudah ia miliki sejauh ini. Lebih dari cukup dibanding dengan anak-anak di depannya saat ini.
Seorang anak perempuan berlari ke arah Jelita.

“Kak Jelita cantik sekali,” puji anak kecil itu pada Jelita.
“Terima kasih adik kecil yang juga cantik. Siapa nama kamu? ” tanya Jelita.
“Namaku Anisa kak,” jawab anak kecil yang bernama Anisa itu.
Dari arah lain, segerombol anak menghampiri Anisa dan Jelita.
“Nisa, ayo ajak Kak Jelita belajar bersama!” ajak seorang anak.
“Ayo Kak!” Anisa menarik tangan Jelita.

Dari jauh terlihat Jelita menyukai apa yang sedang ia lakukan. Ia tak berhenti tersenyum dan sesekali tertawa bersama anak-anak di sana. Ibu Rike yang melihat pemandangan itu pun juga ikut bahagia.
Setelah bertemu dengan anak-anak itu, Jelita akhirnya menyadari beberapa hal yang salah di hidupnya. Mulai dari selalu membandingkan diri dengan orang lain yang membuatnya insecure, malas untuk melakukan apapun, hingga terjebak pada rutinitas yang membosankan.

Namun, setelah bertemu dengan anak-anak itu, Jelita berjanji pada dirinya untuk mengubah kebiasaan buruknya itu dan memulai habit yang baru dalam hidupnya. Coba saja kalau Jelita tadi benar-benar menolak ajakan ibunya untuk ikut, sudah tentu saat ini ia sedang berada di atas kasur dengan rasa insecure karena seharian membandingkan diri dengan foto-foto di Instagram.

Selama ini Jelita hanya menghabiskan berjam-jam waktunya di dunia semu penuh pencitraan. Ia terlalu jauh untuk melihat sesuatu yang indah. Sampai akhirnya, Jelita mendekat dan menemukan sesuatu yang tak ia temukan sebelumnya.

Hari ini bagi Jelita merupakan hari yang melelahkan karena perjalanan pulang pergi yang memakan waktu kurang lebih 6 jam. Namun, anehnya rasa lelah yang dirasakan Jelita adalah rasa lelah yang ia syukuri. Fisiknya memang lelah, tapi batinnya sangat bahagia.

Suci

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *