Mahasiswa FKIP UNS Bersiap PPL Online

LPMMOTIVASI.COM- Mahasiswa harus siap dengan era  new normal yang hampir di berbagai aktivitas serba virtual. Mereka harus bersikap adaptif, termasuk magang 3 yang harus virtual (observasi, konseling, dan bimbingan, ujian/FGD),” ujar Edy Legowo selaku Kaprodi BK saat diwawancara via daring (29/07).

Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) atau Magang Kependidikan 3 adalah salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa sebagai calon pendidik. Sasarannya yaitu mahasiswa yang akan masuk semester 7 di mana PPL ini merupakan salah satu mata kuliah wajib. Setiap tahun, FKIP UNS mengirim mahasiswanya untuk terjun langsung ke sekolah-sekolah di Solo Raya. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana PPL dilaksanakan secara langsung di sekolah, tahun ini PPL akan dilaksanakan secara online (daring) mengingat banyaknya kendala di masa pandemi serta keputusan Walikota Surakarta bahwa sekolah-sekolah di Surakarta baru akan masuk pada bulan Desember.

“Ya daring (dalam jaringan). Sistematika sama mulai dari pembekalan, penyerahan, orientasi, dan observasi, model tes, latihan terbimbing, refleksi pembelajaran, dan FGD, lewat zoom meeting, google meetingvideo call atau whatsapp,” ujar Leo Agung S selaku Ketua UP2KT saat dihubungi via whatsapp (15/07).

Ia juga mengatakan bahwa semua magang dilakukan di sekolah-sekolah yang ada di Solo Raya sehingga mahasiswa tidak boleh memilih sekolah di daerah masing-masing. Dasar pertimbangan aturan ini, yaitu: (1) dari segi MoU untuk menjalin kerja sama harus ada MoU; (2) pelaksanaan magang daring; (3) administrasi; (4) supervisi.

Leo juga menjelaskan dalam Live Streaming Pembekalan Mahasiswa Magang 3 FKIP UNS via youtube, bahwa untuk penilaian magang lebih disederhanakan menjadi 3, yaitu nilai perangkat pembelajaran atau pembuatan RPP 1 lembar tetap dengan lampirannya sesuai dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, rata-rata latihan mengajar terbimbing, dan FGD.

Sementara itu, Basori dalam Live Streaming Pembekalan Mahasiswa Magang 3 juga menyampaikan teknis pelaksanaannya. Ia mengatakan bahwa penyerahan mahasiswa dilaksanakan pada 03-08 Agustus 2020 dan dilakukan secara luring (luar jaringan) dan daring. Koordinator dosen pembimbing dan salah satu mahasiswa sebagai koordinator akan datang ke sekolah mitra untuk mengakomodasi pertemuan tersebut sehingga dapat diakses oleh peserta PPL lainnya secara daring.

“Sedangkan mekanisme penyerahan diminta mengawali berkoordinasi dengan dosen pembimbing, mengusahakan media v-con (video conference) untuk penyerahan, baru saat penyerahan diusahakan ada satu dua mahasiswa luring bersama koor dosen pembimbing memfasillitasi bagaimana proses penyerahan itu dilaksanakan,” tambah Basori (30/07).

Sementara itu, mengenai kebijakan magang 3, setiap prodi memiliki kebijakan tersendiri yang disesuaikan dengan prodi tersebut. Seperti halnya yang disampaikan oleh Edy Legowo selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) Bimbingan Konseling (BK). “Dari prodi BK tentunya akan berbeda, karena apa? Karena panduan yang dibuat oleh fakultas itu fokus pada proses pembelajaran. Artinya panduan itu dipersiapkan untuk atau digunakan untuk membantu para mahasiswa yang non BK yang kegiatan sekolah menekankan pada proses pembelajaran. Sedangkan di BK itu banyak kegiatan yang bisa dilakukan paling tidak ada berbagai layanan, ada layanan bimbingan kelompok, konseling kelompok, konseling individual, bimbingan klasikal semua itu dikemas dengan daring. Untuk itu kami merencanakan hari sabtu itu ada pertemuan untuk koordinasi dengan guru pamong maupun mahasiswa apa–apa yang mesti dilakukan selama magang 8 minggu di sekolah,” ujar Edy (29/07).

Terkait pelaksanaaan magang 3 secara online tersebut, Edy memberi tanggapan bahwa dalam pelaksanaan magang 3 daring memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah mahasiswa dipaksa beradaptasi dengan kehidupan new normal pada bidang pendidikan. Edy juga mengungkapkan kekurangan dari magang 3 daring adalah kurangnya infrastruktur sehingga mahasiswa dan guru belum siap untuk beralih pada pembelajaran daring. Selain itu, menurut Edy, tidak semua layanan dapat digunakan untuk mengembangkan potensi siswa.

Menyikapi kebijakan baru tersebut, Nadif Hanan Narendra, mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah 2017 merasa kurang setuju apabila magang 3 dilakukan secara daring. Ia merasa lebih mudah apabila magang 3 dilakukan secara langsung atau luring. “Alasan saya tidak setuju ya karena adanya kendala ini, yang pertama saya termasuk tipe orang ketika mengajar mengandalkan feedback siswa. Nah, kalau online maka siswa kurang bisa fokus dengan saya selaku pengajar. Kedua, soal materi. Nah, jika materi pelajaran itu lumayan sulit buatnya jika menggunakan sistem online, membuat PPT yang bagus dan menarik. Terlebih jika jaringan tengah error maka akan terkendala lagi dalam melaksanakannya. Saya takut pembelajaran jadi garing juga karena tidak mendapat feedback dari siswa,” ujarnya (27/06).

Almira Callista, mahasiswi Prodi Pendidikan Akuntasi berharap agar ada solusi terbaik terkait mata kuliah Magang Kependidikan 3 ini. “Pandemi ini adalah kejadian yang tidak terduga dari pihak prodi maupun universitas pun juga sedang memikirkan ini. Tidak mudah untuk semua pihak memang. Yang terbaik aja lah semoga dipermudah solusi dari mata kuliah praktik ini,” harapnya (01/07).

 

Sagita_
Nanda_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *