Mahasiswa dan Tanggung Jawab

Mahasiswa “kupu-kupu” adalah istilah bagi mahasiswa yang kesehariannya hanya belajar, istirahat dan pulang. Seperti istilah “kupu-kupu” sendiri merupakan akronim dari “kuliah-pulang kuliah-pulang”. Oleh karena itu, semua Universitas, Institut dan Perguruan tinggi lainnya selalu dilengkapi dengan UKM-UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), Ekstrakulikuler, dll. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut, menjadikan aktivitas mahasiswa di kampus tidak hanya belajar, mengerjakan tugas, dan ujian saja, akan tetapi mahasiswa juga dapat belajar berorganisasi dan meningkatkan kemampuan mereka di bidang preneurship, leadership, dan social.

Kegiatan mahasiswa seperti itu memang akan menjadi nilai plus untuk kehidupan di masyarakat nantinya. Akan tetapi, pada sebagian besar mahasiswa aktivis (*sebuatan untuk mahasiswa yang selalu sibuk mengurus organisasi)  sedikit melupakan tanggung jawab mereka yang sebenarnya. Kita tahu bahwa semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, termasuk salah satunya memperoleh pendidikan serta ilmu yang tinggi dan bermanfaat, itulah yang menjadikan alasan mereka untuk  sukarela dan penuh keikhlasan membiayai anak-anak hingga ke perguruan tinggi. Segala yang mereka korbankan adalah demi masa depan dan pendidikan yang tinggi untuk anak-anaknya. Tanggung jawab seorang mahasiswa adalah belajar, belajar untuk memepersiapkan hidup di masyarakat.

Tujuan orang tua menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi adalah demi pendidikan serta ilmu yang tinggi dan bermanfaat, sehingga kewajiban seorang anak (mahasiswa) terhadap orang tuanya adalah belajar yang giat dan bersungguh-sungguh. Meskipun tidak sedikit mahasiswa/mahasiswi yang mampu mendapatkan keduanya, artinya mereka mampu menjadi seorang aktivis sekaligus mampu berprestasi di bangku perkuliahan, namun masih banyak yang justru aktif di dalam berorganisasi namun mereka tidak fokus belajar di kelas (mengikuti kegiatan perkuliahan). Sebagai seorang mahasiswa seharusnya lebih cerdas dalam menentukan sebuah pilihan, berdasarkan prioritas dan tanggung jawab mereka.

Kegiatan berorganisasi di kampus memang tidaklah buruk, justru sebaliknya yakni akan sangat memberikan pengalaman kepada mahasiswa/mahasiswi di kehidupan masyarakat nantinya, namun alangkah baiknya apabila kegiatan berorganisasi tersebut diimbangi dengan kegiatan belajar di perkuliahan. Misalnya pembagian waktu yang seimbang antara belajar di bangku perkuliahan dengan kegiatan berorganisasi berdasarkan kepreoritasanya.

                                                                                                                                                                    Akhmad Jazuli

                                                                                                                                                                    Pendidikan Kimia 2013

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *