Lokakarya UAJ Yogjakarta : Pentingnya Hukum dan Etika Media

lpmmotivasi.com—Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengadakan lokakarya bersama Program Studi Ilmu Komunikasi UNS. Lokakarya yang diselenggarakan pada Jumat 3 Juni dan Sabtu 4 Juni 2016 tersebut, bertemakan Hukum dan Etika Media. Acara tersebut merupakan rangkaian roadshow yang diselenggarakan oleh prodi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Setelah melaksanakan lokakarya di Yogyakarta dan Semarang, Surakarta dipilih karena Surakarta memiliki sejarah pers yang cukup kuat. “Hari lahir pers adalah di Solo,” terang Mario Antonius Birowo, M.A., Ph.D  selaku koordinator lokakarya ketika diwawancarai di akhir acara (4/6). Sementara itu UNS dipilih karena dianggal memiliki dukungan jaringan, publikasi, dan fasilitas yang baik.

Lokakarya tersebut diikuti oleh sekitar 30 peserta, dengan latar belakang aktivis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan jurnalis dari media-media lokal di Surakarta. Dalam acara tersebut ditunjuk empat narasumber yakni Nezar Patria dari Dewan Pers, Theresia D. Wulandari, S.Fil., M.M dan Brigitta Bestari Puspita Jati, M.A dari Tim Riset Klinik Hukum Media Atmajaya Yogyakarta, Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D selaku kepala prodi Ilmu Komunikasi UNS, serta Sunudyantoro selaku Kepala Biro Tempo DIY dan Jateng.

Dalam lokakarya tersebut ditekankan bahwa jurnalis harus menjaga etika dalam kerja jurnalistiknya. Sri Hastjarjo yang juga merupakan mantan jurnalis surat kabar di Surakarta, menekankan bahwa seorang jurnalis harus sadar besarnya dampak sebuah berita sehingga kode etik sangat perlu diperhatikan. Ia menekankan bahwa jurnalistik harus disertai data yang valid. Karena ketika ada kesalahan berita, sekali pun ada fasilitas hak jawab dan suara pembaca bagi narasumber yang keberatan, namun ketika berita sudah dilempar kepada publik, maka publik akan segera membuat penilaian sehingga telanjur muncul dampak. “Terlebih biasanya masyarakat hanya berhenti di berita pertama dan tidak mengikuti berita selanjutnya,” jelasnya dalam lokakarya (4/6).

Sunudyantoro pun menekankan pentingnya verifikasi data dalam kerja jurnalistik. Sunu, panggilan akrab jurnalis Tempo tersebut, menganggap bahwa jurnalis juga seorang peneliti yang perlu meneliti data. Ia mengungkapkan bahwa data yang terverifikasi kuat adalah penunjang kebenaran. “Kebenaran absolut hanya milik Tuhan. Tapi, kebenaran jurnalistik bisa didukung dengan verifikasi data,” paparnya pada sesi kedua lokakarya (4/6).

 

Aristi_

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *