Lemas Tak Berdaya Dikatakan Idiot, Pemimpin Kegiatan hilang Hati nurani

Sidang kasus meninggalnya GE pada kegiatan Pendidikan darn Pelatihan Dasar (Diklatsar) Resimen Mahasiswa (Menwa) berlanjut pada hari Kamis (24/02) Sidang kali ini dihadiri 4 saksi dan 2 ahli (melalui Zoom). 4 saksi 2 diantaranya dari panitia dan 2 lainnya dari peserta. Keempat saksi menjelaskan keeikutsertaan selama Diklatsar berlangsung.

Seluruh rangkaian kegiatan diklatsar tidak memiliki SOP “Kegiatan tidak memiliki SOP hanya ada rancangan Latihan dibuat N (Terdakwa 1, komandan Latihan) tidak tahu dituangkan dalam tulisan atau tidak” Ujar Prilo (Humas) (24/02). Saat kegiatan terdapat pemoporan dan hukuman fisik berupa push up, sit up dan rolling depan”.

Kegiatan sempat mengalami keterlambatan sebagai hukuman peserta diperintahkan jalan jongkok sepanjang 15-20 meter dari posko menwa. Saat kegiatan senam senjata GE mendapatkan hukuman berupa pukulan matras di bagian atas helm yang dilakukan oleh faisal (Terdakwa 2) selaku komandan propos.

Istikanah (Pantia perlengkapan) sempat mendapatkan perintah untuk membangunkan peserta laki-laki termasuk GE. “Setelah dibangunkan peserta kumpul ke danlat lalu jalan kaki ke pos (5-10 m). Dari pos ke danlat (ledakan 1) berguling 5 meter.

Setelah kembali ke pos (ledakan 2) menjungkir 5-10 m. Pos ke danlat (ledakan 3) merayap. Ledakan ke 4 merangkak. Saat itu terjadi pemoporan dan penamparan pada peserta pada baris paling depan dan barisan paling kanan” Ujarnya (24/02)

Saat cek kesehatan Istikanah mengetahui GE mengeluhkan sakit pada kakinya. N memerintahkan untuk memberi perhatian khusus pada GE karena kakinya sakit. Setelah refting Vina melihat GE bersandar dipohon pisang “Saya melihat GE bersandar dipohon pisang dalam keadaan lemas, saat saya nangis GE juga nangis” ujarnya.

Namun, GE mendapatkan hukuman karena dilihat sering melamun “Saat bersender dipohon pisang GE disuruh mbak Biza pus up dan bilang, itu lho cewek-cewek kuat masak kamu enggak” ujar Vina (24/02)

Saat kembali ke kampus GE pingsan dan dibawa di Gedung BKPMM. Ia dianggap mengalami kesurupan karena kejang. GE lemas dan tidak mau makan, namun GE mendapatkan perlakuan kurang pantas dari Nanang karena tidak mau disuapi. “Mas Nanang emosi melihat itu kemudian ia menendang pintu mengumpat kata-kata kasar “Bajingan di dulang wedok gelem (Bajingan disuapin cewek mau)”. N merekam gilang “ iki lho cah autis, idiot, ig mu opo tak tag e” ujar Pramita (Peserta) (24/02).

Intan_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.