Lajuku Untuk Bunda

Laju tak pantas menyerah
Aku berjibaku dengan itu
Dengan tumpukan kertas bak pisau
Dengan peluh dipelipis

Laju tak pantas menyerah
Tanpa henti, tanpa kaki
Laju yang tak terhingga
Tak kenal lelah

Saat aku pejamkan mata
Namun mulutku masih bertasbih
Dan air mata mengalir
Lalu, maafkan aku

Aku, harapanku tak ada akhir
Dan, tak kan ada penghalangku
Haus, ya memang haus
Haus akan kepuasan

Untuk apa?
Apalagi kalau bukan
Karena orang tua itu
Aku menyayanginya

Sampai tetes darah terakhir
Sampai langkah terakhir
Sampai semua melebur satu
Jadi debu dan lenyap

 

Letta Tabiladhama

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *