Keterasingan Dongeng dan Literasi Anak Sekolah Dasar

Dahulu, dongeng biasanya dibacakan oleh orang tua atau nenek menjelang anak tidur. Hal ini  memiliki keistimewaan dan ciri khas tersendiri. Dongeng mampu melatih dan menstimulus kemampuan anak-anak untuk berbicara. Meskipun dewasa ini kegiatan membaca dongeng sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat luas, terutama siswa sekolah dasar. Sudah seharusnya cerita dongeng masih melekat pada tiap individu. Dongeng sendiri adalah cerita khayalan atau cerita yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng biasanya bersifat menghibur dan mengandung nilai pendidikan. Dongeng, disebut pula cerita yang dikarang dan diceritakan kembali secara berulang-ulang oleh orang-orang. Cerita dalam dongeng muncul karena terinspirasi dari suatu peristiwa.

James Danandjaja, salah seorang pakar folklore, pernah berkata bahwa dongeng termasuk dalam cerita rakyat lisan yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh empunya cerita. Dongeng juga tidak terikat oleh tempat maupun waktu, karena dongeng diceritakan terutama untuk menghibur. Meskipun demikian, banyak pula dongeng yang berisi ajaran moral, melukiskan kebenaran, bahkan ada pula jenis dongeng yang mengandung sindiran. Tentu kita tahu, berdasarkan isinya, jenis-jenis dongeng terdiri atas lima jenis, yaitu fabel, legenda, mite, sage, dan parabel. Cerita yang menggambarkan kehidupan binatang, tokohnya diperankan oleh binatang adalah fabel. Tentu menjadi daya tarik yang seharunsya ampuh bagi siswa sekolah dasar. Cerita “Kancil Nyolong Timun” pada era 90-an sudah menjadi pembahasan dimana-mana, termasuk di kalangan anak-anak. Berbeda dengan mite, yang merupakan cerita tentang dewa-dewa dan makhluk halus/animisme dan sage yang berkaitan dengan sejarah tentu sulit dicerna oleh anak-anak, namun dengan dongen yang dibacakan dan digaungkan setiap hari di bangku sekolah maupun di rumah hal ini kan menjadi mudah.

Dewasa ini siswa sekolah dasar, terkesan malas untuk membaca buku, kebanyakan dari siswa SD lebih suka main gawai dan membuka situs-situs permainan online seperti Mobile Legend, Free Fire dan Clash Of Titan. Dampaknya anak sekolah dasar belum lancar dalam membaca, salah dalam mengeja kata dan tidak memahami tanda baca, seperti tanda titik, koma, dan tanya dalam kalimat. Oleh sebab itu, diperlukan metode yang tepat untuk melatih dan merangsang kemampuan membaca anak, salah satunya dengan mengenalkan dongeng pada siswa sekolah dasar.

Terlepas dari jenis-jenis dongeng tersebut, banyak manfaat yang didapat dari mendongeng, diantaranya dongeng dapat dijadikan sebagai sarana hiburan dan pendidikan bagi anak-anak. Atas dasar itu, beberapa hari lalu (26/3) mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia menyelenggarakan pelatihan dongeng di SD N Sanggrahan 2 Surakarta. Kegiatan yang digelar selama tiga hari ini, diharapkan seluruh siswa, khususnya siswa kelas empat mampu mengembangkan kemampuan membaca dan berbicara di depan kelas, selain itu dapat melihat realita dongeng yang terasing di mata anak-anak sekolah dasar.

Pelatihan yang diadakan secara intensif ini, memberikan fakta bahwa siswa tersebut belum mampu membaca dengan baik, masih ada istilah-istilah yang tidak diketahui. Kemudian mereka belum mampu membacak intonasi dongeng dengan baik, kebanyakan dari siswa SDN Sanggrahan hanya membaca dongeng dengan intonasi yang datar.

Untuk menanggulangi tersebut, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia yang bertugas sebagai pelatih menyiapkan metode dan media pembelajaran yang menarik. Media gambar disiapkan dengan membuat alat peraga yang terbuat dari kardus berbentuk binatang. Selain itu, metode diskusi dengan kelompok juga dipilih agar siswa lebih mandiri, aktif dan lancar berbicara. Melalui media dan metode yang kreatif, anak-anak menjadi tertarik untuk membaca dongeng dan lebih bersemangat mendongeng di depan kelas. Bentuk-bentuk binatang yang lucu dan menarik juga mampu memikat hati anak-anak.

Pada pelatihan tersebut siswa-siwi SD N Sanggrahan yang belum terbiasa untuk berbicara di depan kelas menjadi berani dan lancar dalam berbicara. Siswa yang tidak bisa membaca dengan baik juga mampu terstimulus sehingga kemampuan membaca mereka meningkat. Pada tahap akhir mahasiswa membuat lomba dengan berbagai hadiah yang menarik, pada lomba tersebut siswa pelatihan wajib membacakan dongeng dengan kelompoknya masing-masing.

 

Yuvensia Karisma Novena

Universitas Sebelas Maret

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *