KEPING CINTA

Mentari pagi mulai menampakkan kehadirannya. Memberikan kehangatan bagi orang-orang dengan sinar jingga. Suara ayam mulai bersahutan membentuk melodi pengisi pagi. Cukup untuk membuat orang terbangun dari lelapnya malam. Sebagian bahkan sudah bersiap dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang memikul sekeranjang sayur untuk dijual di pasar, ada yang menyapu halaman, ada yang memberi makan hewan peliharaannya, ada yang baca koran dengan teh manis di sampingnya, dan ada juga segerombolan gadis SMA yang cekikikan sembari menunggu bus datang. Semua orang telah sibuk dengan aktivitasnya, tak terkecuali aku.

Dengan pakaian rapi, aku berdiri di depan cermin. Menata ulang rambut panjangku yang telah kusisir 5 kali sedari pagi, memoles kembali wajahku dengan bedak 20 ribuan. “Tak apalah cuma bedak murahan, nanti kalo aku kaya, akan kubeli bedak mahal itu beserta tokonya,” batinku menyemangati diri sendiri.

Ku lihat lagi wajahku di depan cermin. Memastikan bahwa penampilanku pagi ini adalah penampilan terbaikku. Kegiatanku terhenti dengan suara gedoran di pintu kamar. Tak lama kemudian, pintu kayu itu terbuka menampakkan wajah ibuku yang garang.

“Amboi, sudah hampir satu jam kau berdiri di depan cermin dan belum selesai juga? Pantas saja tak ada perusahaan yang menerimamu. Siapa pula yang mau mempekerjakan pegawai malas yang bisanya cuma becermin saja?” Ibu terus saja mengoceh membuatku mengangkat kedua tangan menutupi telinga. Seperti biasa, ibu-ibu dan ocehannya adalah bencana.

Dengan dalih tak ingin telat, kusambar map kuning di atas meja dan segera menghampiri ibuku, mencium tangan dan pipinya lalu melenggang jauh ke luar rumah. Dari kejauhan ku dengar sayup-sayup suara ibu berteriak. “Sarapan dulu!”

Aku tersenyum dan tetap melangkahkan kakiku, menyusuri gang-gang sempit menuju jalan raya. Di tengah perjalanan, aku bertemu Bagas, pemuda di kampungku sekaligus cinta pertamaku hingga sekarang.

“Assalamu’alaikum, May. Rapi banget, mau kemana?” Sapanya padaku dengan senyuman di wajah tampannya.
Ah senyuman itu! Aku ingat, senyuman itu adalah awal mula dari segalanya, dari segala perasaan yang meluap-luap di dalam hatiku, dari getaran cinta yang menghunus nadiku. Semua berawal dari senyuman manisnya. Dengan tangan merapikan rambut, aku berusaha seanggun mungkin menjawab sapaannya.

“Wa’alaikumsalam, iya ini mau ke kantor, kebetulan hari ini ada wawancara kerja,” balasku. Tak lupa kutambahi dengan senyuman paling lebar yang aku punya.

“Wah, selamat May, semoga keterima.”
“Terima kasih, kamu sendiri mau kemana?” aku sengaja mencari topik agar pembicaraanku dengannya berlangsung lama. Jarang-jarang kan punya kesempatan emas seperti ini?

“Oh ini, aku mau ke tempat percetakan, mau nyetak undangan.” Dahiku mengernyit, tak paham dengan ucapannya. Undangan apa yang ia maksud? Yang pasti bukan undangan pernikahan kan? Ya, pasti bukan. Tanpa sadar aku menggelengkan kepala.

“Undangan apa?” Bibirku gatal sekali ingin segera menanyakan hal tersebut. Disertai senyuman malu-malu, ia pun menjawab. Jawaban yang mematikan fungsi sel saraf di otakku.

“Undanganku, dua bulan dari sekarang aku akan menikah.” Hening. Senyum yang selalu ku pasang di wajahku luntur, luruh bersama kepingan-kepingan hatiku. Detak jantung yang mulanya normal, kini berdetak cepat. Saking cepatnya membuat dadaku sesak. Aku bahkan kesulitan hanya untuk mengambil napas sejenak. Melihat raut mukaku yang berubah, Bagas kemudian bertanya.

“May, kau tak apa? Kenapa mukamu memerah?” mendengar itu, seketika batinku berteriak “Aku menahan tangis, bodoh! Dan itu karenamu!” Namun, akan lebih bodoh jika kalimat itu tetap kuucapkan.

Dengan tangan memegang erat map –nyaris meremas– aku kuatkan hatiku untuk menjawab “Tidak, tidak apa-apa. a-aku harus pergi sekarang, aku bisa telat. Oh ya turut berbahagia.”

Tanpa menunggu balasan darinya, aku berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Bagas. Sesekali ku hapus cairan bening di sudut mataku. Benar kata orang, cinta pertama tak selalu bisa bersama.

 

Aula Fitriani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *