Kasih Terima

sebuah ungkapan terima kasih yang terbalik.

Kita semua sepakat bahwa virus itu memang benar-benar ada keberadaanya. Di setiap sistem pasti terdapat virus. Tak terkecuali pada suatu sistem dimana manusia menjadi komponen utamanya. Layaknya sebuah telenovela dimana ada antagonis yang berperan sebagai virus yang merugikan.

Ada baiknya memang eksistensi virus, karena baik dan buruk pun memiliki peran masing-masing yang saling menghidupi. Jika tak ada buruk, maka tak ada baik, begitupun virus yang berkonotasi negatif atau buruk. Namun akan perlu dibasmi apabila telah merusak sistem dan membuat kinerjanya lain dari yang diharapkan.

Tulisan ini mencoba masuk ke dalam sistem organisasi terbesar di negeri ini sebagai anti-virus, bukan pembasmi komponen yang memang diperlukan. Yang diperlukan disini yaitu yang kadang-kadang jarang kita temui di tiap-tiap episode pada acara pemberitaan layar kaca maupun di tiap-tiap baris kata pada media nyata dengan kabar sedap buat rakyat -sepak terjang mulianya tak pernah diekspos-. Yang ada ketika mucul dengan dugaan hina untuk dalih melengserkan. Lain cerita dengan si “virus” yang keadaanya bertolak pantat dengan keadaan tadi, yang mana pembuatan tajuk indah di pemberitaan semakin menjadi, sedangkan busuknya selalu dikebiri dari lini produksi warta. Kondisi seperti ini sudah perlu penanganan bukan? Maka munculah lowongan kegiatan.

Segenap jajaran pengangguran, aku dengar ucapkan terimakasih. Tertuju pada petinggi-petinggi yang rendah di mata si gajah- yang tak lebih mulia dari manusia- di negeri ini. Namun tetap saja, ucapan itu harus diucapkan dan diludahkan di “jantung- jantung” mereka, agar dipompa dan mengalir ke seluruh tubuh, kemudian mengaktifkan syaraf- syaraf sensoriknya yang mungkin sedang nonaktif, sehingga  rasa malu menjadi benalu di negeri ini tak dirasanya. Dengan ini bertujuan mereka tahu bahwa ada, bahkan banyak yang “berterima kasih” atas perilakunya yang menghasilkan lowongan kegiatan.

Upaya pembukaan lowongan kegiatan di negeri ini nampaknya sudah terlihat jelas.  Bak bulir – bulir kotoran telinga yang tak sedap di mata  dan etika dan estetika. Namun jangan salah, jika kotoran telinga itu punya manfaat. Kotoran yang melekat di lubang pendengaran manusia ini memiliki makna filosofis. Yaitu, agar kita tidak manjadi orang malas, karena itu mengisyaratkan kita untuk berkerja membersihkanya. Maka, pekerjaan yang dimaksud disini adalah tukang kebersihan, begitu pula “lowongan kegiatan” di negeri ini -menjadi petugas kebersihan sampah-sampah pemerintah-.

Tak segan-segan rasanya ingin mengucapkan “terima kasih” atas dibukanya lowongan ini. Mereka yang “murah hati” membuka lowongan, patut dan memang seharusnya kita beri ucapan tersebut. Meskipun lowongan yang ditawarkan buta gaji alias tiada upah. Itu artinya, lowongan ini dibuka bukan untuk mereka yang semata-mata hanya mengejar harta. Ingat, ini lowongan kegiatan, bukan lowongan pekerjaan.

Ditujukan pada siapapun yang mau mengotak, mengotot dan “menikmati” fenomena bencana negri ini. Para “petinggi rendah” kita memberi bahan untuk berkegiatan, yaitu berupa tingkah laku perkara mereka. Disana telah ada yang “menikmati” kegiatan tersebut dengan air mata batin maupun lahirnya, dengan sekuat otot dan otaknya, dengan darahnya, dengan nyawanya, dan dengan dengan yang lainya.

Ungkapan terima kasih itu berupa perlawanan terhadap para benalu negeri ini yang syarat akan pembungkaman, penyiksaan hingga pelenyapan terhadap siapapun yang melawan. Kalo sudah seperti ini, lantas pantaskah penggunaan istilah terima kasih? Tentunya tidak, karena itu sebuah ungkapan terima kasih yang terbalik maknanya.

Abdul Latief

 

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *