Kabar UKT di Tengah Corona

LPMMOTIVASI.COM- Pada hari Jumat, 3 April pukul 19.00 WIB, telah dilaksanakan kuliah daring (dalam jaringan) bersama Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS). Kuliah daring tersebut juga dihadiri oleh para Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan jajaran birokrat kampus lainnya, untuk membahas kebijakan terkait adanya pandemik Corona atau Covid-19. Menariknya, mahasiswa meminta kejelasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan bantuan subsidi kuota 10GB yang dinilai masih kurang. Seperti yang diketahui, berdasarkan Surat Edaran Rektor, pelaksanaan kuliah dan beberapa aktivitas perkuliahan dilaksanakan secara daring. Menanggapi hal tersebut, Jamal Wiwoho selaku Rektor UNS memberi beberapa kebijakan. “UKT untuk semester depan bagi mahasiswa kurang mampu dapat mengajukan dispensasi, penurunan great atau pembebasan UKT,” jelasnya.

Muhtar, selaku Staf Ahli Rektor Bidang Keuangan menambahkan terkait presentase pengelolaannya. “Bahwa untuk UKT dan uang SPI, 20% akan dikembalikan ke mahasiswa, 60% digunakan untuk sarana dan prasarana fakultas, dan 20% untuk kesejahteraan. Selain itu, dana dari Kantong UNS Peduli sudah terkumpul sebesar 158 juta yang mana sebagian akan digunakan untuk pengadaan server, memberi bantuan 100 juta dalam bentuk APD dan konsumsi untuk RS UNS, pembelian kuota, pembelian hand sanitizer, dan pemberian logistik terhadap mahasiswa yang terhalang pulang atau masih stay di kos. UNS itu transparan,” tambahnya.

Terkait kurangnya kuota 10GB bagi mahasiswa, Wakil Rektor Bidang Akademik, Ahmad Yunus menilai besaran tersebut sudah cukup. “Kuota 10GB itu, dinilai cukup karena sudah dihitung secara matematis, dan akan disesuaikan dengan sistem pembelajaran daring asinkronis dan sinkronis,” ucapnya. Ia juga menerangkan terkait kebijakan UKT untuk mahasiswa semester akhir. “Untuk mahasiswa akhir yang seharusnya semester ini lulus tetapi tidak lulus dikarenakan keadaan yang seperti ini, dan harus melanjutkan di semester depan, tidak dikenakan UKT-nya,” kata Yunus. Ia juga mengimbau agar seluruh jajaran UNS dapat bekerja sama dalam menyikapi situasi ini. “Terkait dengan keadaan seperti ini, seluruh jajaran UNS mohon untuk saling bekerja sama untuk mencari solusi dan yang pasti tidak akan merugikan mahasiswa,” terangnya. Ia juga berharap agar mahasiswa BEM berinisiatif menjadi garda terdepan sebagai relawan Covid-19.

Menanggapi kuliah daring bersama rektorat, mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) angkatan 2019, Umi Nasita turut bersyukur dengan kebijakan tersebut. “Alhamdulillah, akhirnya berita dapat kuota 10GB mulai bulan April ini untuk mahasiswa bidikmisi dan reguler. Pada awalnya, saya dan teman saya khawatir kalau kuota ini hanya untuk bidikmisi saja, ternyata dari pihak rektorat adil. Ini poin positifnya kuliah daring bersama rektorat sesekali perlu diadakan karena apabila berita ini langsung dari sumbernya yang mengutarakan, jadinya tidak akan termakan berita hoax tentang desas-desus informasi kuota dan UKT UNS ini. Selain itu, saya baru paham mengenai mekanisme mendapat kuota 10 GB darimana, ternyata dihitung dari pengeluaran kuota untuk Zoom,” ungkapnya.

Apriliya Ayu Ningt Tyas, mahasiswi Pendidikan Sejarah 2017 juga mengakui hal serupa. “Jawaban dari Pak Jamal sudah mewakili dari mahasiswa yang pertanyakan tentang tidak adanya pengembalian UKT 100% karena digunakan untuk pembelian APD yang mana dialokasikan ke RS UNS dan perbaikan sistem kuliah daring karena selama ini sistem kuliah daring ini masih jelek. UKT juga digunakan untuk menyalurkan logistik mahasiswa yang terhalang pulangnya karena virus ini. KKN yang dijadwalkan ulang, dan lebih di-fix kan lagi, mahasiswa yang menjadi relawan akan dianggap sudah KKN. Yang terhalang lulus itu dibebaskan biaya UKT. Kuliah daring bersama rektorat ini sangat bermanfaat karena kita bisa mengetahui kondisi kuliah daring yang mana nanti ke depannya akan diperbaiki lagi, untuk kuliah tatap muka masih dipertimbangkan lagi prosedur dan tata caranya,” ungkapnya.

Sebagai akhir dari diskusi ini, Sunanto, selaku moderator memberi arahan agar Rektor UNS dan Ketua BEM UNS memberikan Closing Statement. “Saya sangat mengapresiasi dan senang atas terlaksananya suatu komunikasi yang baik. Saya yakin apa yang disampaikan oleh anak-anak saya para anggota BEM, baik itu dari fakultas maupun universitas dan sebagainya, saya selalu mengumpamakan saya bapakmu dan anak-anak adalah anak- anak saya. Oleh karena itu, jika ada masalah-masalah, mari sama-sama kita bisa diskusikan seperti hangatnya pelukan orang tua terhadap anaknya. Jangan sampai kemudian komunikasi di antara kami itu terhambat karena masalah-masalah yang tidak penting. Silakan kalau nanti yang tidak baik atau kurang baik terhadap manajemen kita, mari kita benahi bersama-sama karena ini sejatinya untuk kemajuan kita bersama,” ucap Jamal. Muhammad Zainal Arifin selaku Ketua BEM UNS juga berharap hal serupa. “Terima kasih sebelumnya. Kita dua jam ini, bapak, ibu mau mendengarkan keluh-kesah dan keresahan dari kami. Ya inilah keresahan dari anak-anak didik mahasiswa UNS kepada ayahanda dan ibunda mahasiswa UNS. Harapannya, hubungan anak-anak ke ayahanda, dan bukan hubungan birokratif. Benar-benar ayahanda dan ibunda segera melakukan upaya-upaya terbaik untuk anak-anaknya. Harapan dari audiensi ini, komunikasi dengan mahasiswa bisa berlanjut sesering mungkin, karena ibarat ayahanda sama anak-anak, bisa dikatakan kalau komunikasi jarang pasti akan timbul sebuah permasalahan,” ucap Arifin dalam closing statement-nya.

 

Sagita_

Sisi_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *