KABAR PENDIDIKAN DI TENGAH PANDEMI

COVID-19 menjadi bahan perbincangan yang tiada habisnya. Tidak hanya di Indonesia, namun hampir di seluruh dunia. Penyakit yang disebabkan oleh corona virus ini menyerang sistem pernapasan manusia, dan menjadi masalah besar yang harus ditangani oleh seluruh masyarakat di penjuru dunia. Juru bicara pemerintah, Achmad Yurianto, tidak pernah absen melaporkan jumlah penderita COVID-19 di Indonesia setiap harinya. Mulai dari kenaikan kasus positif, meninggal dunia, hingga berhasil sembuh dari COVID-19. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 ini. Mulai dari social distancing  hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan masyarakat menerapkan Work From Home (WFH)

Kebijakan Pemerintah
Work From Home (WFH) memberikan dampak yang cukup besar bagi kehidupan, salah satunya dalam bidang pendidikan. Melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatur kebijakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di tengah Pandemi COVID-19. Dalam surat edaran tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim menyampaikan 6 poin penting, yaitu penghapusan Ujian Nasional 2020 termasuk Uji Kompetensi Keahlian bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), proses pembelajaran dari rumah, ketentuan Ujian Sekolah, ketentuan kenaikan kelas, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), dan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dampak COVID-19 dalam bidang Pendidikan 
Dilansir dari kompas.com, kebijakan Work From Home (WFH) membuat pemerintah harus memindahkan proses pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh atau dalam jaringan (daring) di rumah masing-masing. Pembelajaran daring memang bukan suatu hal yang baru. Perguruan tinggi di Indonesia sudah beberapa kali menerapkan pembelajaran daring sebelum adanya COVID-19. Namun, untuk beberapa sekolah yang belum pernah menerapkan pembelajaran daring, mungkin ini menjadi suatu hal yang baru sehingga perlu persiapan yang sungguh-sungguh untuk melaksanakan pembelajaran ini.
Untuk melaksanakan pembelajaran daring, diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Salah satu yang diperlukan yaitu kepemilikan perangkat pendukung seperti gawai dan laptop. Di Indonesia sendiri, masih banyak guru bahkan siswa yang kesulitan untuk memiliki sarana dan prasarana yang memadai.

Tanpa adanya jaringan internet, gawai dan laptop tidak ada gunanya. Jaringan internet sangat dibutuhkan, karena tanpa internet pembelajaran daring akan sulit dilakukan. Permasalahannya, tidak semua guru dan siswa memiliki jaringan internet yang stabil. Hal ini berdampak pada penerimaan informasi yang dapat merugikan siswa maupun guru. Sering terjadi siswa tertinggal informasi karena sinyal yang kurang memadai, bahkan tidak jarang siswa terlambat mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru. Jaringan internet juga tidak bisa didapatkan secara cuma-cuma. Guru dan murid harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan jaringan internet, entah itu untuk membayar wifi atau membeli kuota selular. Hal ini tentu saja akan menambah pengeluaran.

Hikmah COVID-19 
Di balik banyaknya permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan, ternyata masih ada hikmah yang dapat dipetik dari pandemi COVID-19 ini. Penerapan pembelajaran daring ini menjadi tantangan untuk guru maupun siswa supaya lebih melek teknologi dan dituntut menguasai berbagai macam teknologi untuk melakukan kegiatan pembelajaran daring. Berbagai media pembelajaran dicoba dan digunakan secara maksimal dalam melangsungkan pembelajaran, diantaranya e-learning , zoom, google meet, classroom, youtube, whatsapp, dan media lainnya. Dengan adanya pembelajaran daring ini, guru mampu menyampaikan ilmu dengan cara baru yang lebih bervariasi dan belum pernah dilakukan ketika pembelajaran tatap muka.

Pada diskusi dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020 bertema “Belajar dari Covid-19”, Nadiem menjelaskan bahwa pembelajaran daring yang saat ini diterapkan menjadikan orang tua sadar betapa sulitnya mendidik anak. Empati orang tua terhadap guru menjadi meningkat dan guru juga menyadari bahwa tanpa adanya peran orang tua maka pendidikan itu tidak akan selesai.

Pembelajaran daring yang dilakukan dari rumah masing-masing membuat orang tua lebih mudah dalam mengawasi perkembangan belajar anak-anaknya. Orang tua dapat melakukan pembimbingan secara langsung dan meningkatkan komunikasi dengan anak. Selain itu, pembelajaran dari rumah ini dapat menciptakan hubungan yang lebih erat antara anak dan orang tua. Dengan adanya pandemi COVID-19 ini, gawai dan peralatan elektronik lainnya juga lebih banyak digunakan untuk hal-hal positif. Salah satu contohnya adalah anak-anak akan lebih sering menggunakan gawai untuk mengakses sumber pembelajaran untuk kebutuhan belajar.

Dalam memperingati Hari pendidikan Nasional, Nadiem menyampaikan beberapa hal dalam pidatonya. “Guru, siswa, dan orang tua sekarang menyadari bahwa pendidikan itu bukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan di sekolah saja. Tetapi, pendidikan yang efektif itu membutuhkan kolaborasi yang efektif dari tiga hal ini, guru, siswa, dan orang tua. Tanpa kolaborasi itu, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi. Belajar memang tidak selalu mudah, tetapi inilah saatnya kita berinovasi. Saatnya kita melakukan berbagai eksperimen. Inilah saatnya kita mendengarkan dan bangsa yang lebih baik di masa depan,” ungkapnya.

Ika Wulandari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *