Jiwa Pri-Kemanusiaan Sedang Diuji

Sudah beberapa bulan negara Indonesia dan hampir seluruh dunia sedang menghadapi sesuatu yang tak kasat mata, namun bukan hantu atau sejenisnya. Covid-19 atau virus Corona sedang menjadi ancaman dunia. Covid-19 berdampak pada sistem ekonomi, sosial, politik, hingga pendidikan. Masyarakat diimbau untuk selalu di rumah, artinya mereka beraktivitas di rumah dengan minimnya kegiatan sosial. Di Indonesia sendiri, sejak 16 Maret 2020 kemarin, pemerintah Indonesia mengimbau seluruh masyarakat untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Sekolah diliburkan, kegiatan di tempat kerja dikurangi, dan tempat perbelanjaan pun sepi.

Hari pertama, kedua, hingga seminggu berjalan dengan lancar. Uang masih tergenggam di tangan. Enaknya belajar di rumah bisa sambil rebahan atau yang bekerja bisa cuti sejenak. Semakin hari kasus Covid-19 semakin bertambah di Indonesia. Puluhan, ratusan, hingga menyentuh angka ribuan. Social distancing sudah diterapkan, lalu mengapa angka-angka itu terus merangkak? Jika dilihat faktanya, tidak semua masyarakat telah menerapkan social distancing. Entah karena tuntutan ekonomi yang mengharuskan bekerja, atau karena sikap “sok” yang di agung-agungkan.

Jika kita lihat, Social distancing mungkin tidak mempunyai dampak yang berarti bagi mereka kaum “berduit”. Sejenak menunduk, melihat mereka yang bekerja sebagai buruh harian. Dilarang untuk bekerja atau diberhentikan dari pekerjaannya. Secara otomatis, pundi-pundi rupiah untuk menyokong kebutuhan dapur tidak lagi selancar sebelumnya. Kehilangan nyawa karena Corona tidak menghantui mereka. Tapi, mereka lebih memikirkan nyawa mereka dapat terenggut akibat kelaparan karena di meja tidak ada sebutir nasi. Dilansir dari liputan6.com, per 22 April 2020, seorang ibu bernama Yulie yang berasal dari Serang, bersama keluarganya hanya minum air galon selama 2 hari. Pada 20 April 2020 sekitar pukul 15:00 WIB, Ibu tersebut meninggal dunia. Banyak berita yang beredar bahwa beliau meninggal karena kelaparan. Akan tetapi, pada 21 April, suami Bu Yulie, M. Kholik membuat surat pernyataan bahwa istrinya meninggal karena kelelahan bukan kelaparan.

Selain itu, masih banyak di luar sana yang berdiam diri di rumah dengan rasa lapar dan sakit yang mendera. Kepedulian antar sesama itu selalu hadir. “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Begitu bunyi Pancasila sila ke-2 yang seharusnya menjadi salah satu dasar kita untuk peduli pada sesama. Saling menghargai sesama manusia, menyisihkan sedikit rezeki yang didapat untuk sekadar memberi makan yang lain, maupun berbagi masker antarsesama. Melihat mereka yang berjuang di garda depan, rasa welas asih itu harus muncul. Mereka rela bekerja, sedangkan yang lain diam di rumah. Saling menghargai antar profesi, antar masyarakat Indonesia, dan sesama manusia.

Tapi mirisnya, rasa takut terhadap si Corona menghapus rasa iba. Bagaimana tidak? Lihatlah berita-berita yang terngiang di telinga. Para perawat yang diusir dari indekos, bahkan mereka yang positif Corona dilihat sebagai bahaya besar yang dikucilkan. Hingga saat mereka gugur dan pergi ke tempat peristirahat terakhir pun, masih menerima penolakan. Tubuh kaku terombang-ambing, serta sesaknya napas bagi keluarga yang hanya dapat melihat dari jauh tanpa menyentuh.

Rasa peduli antar sesama, sekadar mengingatkan untuk Social distancing dibalas dengan nyawa. Miris! Melihat “Pri-Kemanusian” rakyat Indonesia yang merosot. Apa susahnya membungkam mulut untuk menghujat? Mengikat tangan dan kaki untuk bertindak keji, dan melunakkan hati yang mulai mengeras. Semua bisa menjadi relawan dalam menghadapi situasi ini. Semua bisa sebagai penyebab untuk mengembalikan keadaan. Para perawat biarlah mereka yang bertugas di garda depan. Para pejabat negara semangatlah untuk mencari jalan keluar. Masyarakat Indonesia ikuti peraturan yang ada, dan bagi yang mampu jangan lupakan yang di bawahmu. Kita semua sama, tujuan kita sama, untuk berperang melawan si Corona. Satu hal lagi yang harus diingat, bahwa kita BISA.

Fitroh_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *