Jalan Panjang Jaga Hutan

Nama Film      : The MAHUZEs

Karya              : Dandy Dwi Laksono dan Suparta AZ

Produksi          : Watchdoc Image

Tahun              : 2015

 

Satu lagi film produksi Watchdoc yang perlu diapresiasi, The Mahuzes yang merupakan film yang dihasilkan dari “Ekspesidi Indonesia Biru”. selain film ini tercatat beberapa film karya Watchdoc dalam ekspedisi tersebut yaitu Samin vs Semen, Baduy, Kala Benoa, Lewa Dilembata dan ada beberapa film lainnya yang kebanyakan bercerita tentang lingkungan.

Kali ini melalui film The Mahuzes Watchdoc menceritakan tentang masyarakat asli Merauke untuk menjaga hutannya dalam gempuran investor untuk perkebunan kelapa sawit dan proyek pemerintah. Cerita ini dimulai dari keputusan presiden yang ingin membuka lahan seluas 1,2 juta hektar dalam kurun waktu tiga tahun. Keputusan tersebut merupakan program pemerintah bersama investor asing untuk menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan dan energi berbasis industri atau lewat Program Merauke Integrated Food Energy Estate (MIFEE). Film ini mengangkat tentang masyarakat asli Merauke yang mempertahankan hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka dari pembukaan lahan sebesar 300.000 hektar dan penolakan marga Mahuze dalam pembukaan lahan kelapa sawit yang beberapa waktu lalu terjadi. Di sini penonton diajak berimajinasi untuk membayangkan apa yang akan terjadi ketika pembukaan lahan seluas 1,2 juta hektar dalam tiga tahun, padahal lahan sebesar 300.000 hektar saja memakan waktu lebih dari itu. Masyarakat asli Merauke sudah merasa dirugikan karena sumber penghidupannya telah berubah menjadi sawah yang mereka yakini hanya untuk kepentingan investor saja.

Film ini menampilkan bagaimana masyarakat asli Merauke menolak dengan tegas pembukaan lahan untuk sawah ini. Masyarakat asli Merauke memang diketahui tidak memakan nasi sebagai makanan pokoknya, namun bukan itu alasan utama mereka menolak pembukaan lahan tersebut, melainkan dengan alasan mereka tidak mau hutan (lingkungan) mereka dirusak. Selain permasalahan dengan warga, hutan, dan lingkungan, film ini pun menceritakan bagaimana kemungkinan untuk membuka lahan sebesar itu padahal sumber air disana hanya mengandalkan air hujan yang tidak bisa dipastikan kapan turunnya. Bukan hanya permasalahan air, pekerja tani pun menjadi permasalahan karena petani yang ada disana sudah mempunyai lahan sendiri dan pasti akan lebih memilih menggarap sawahnya daripada menjadi buruh tani untuk pemerintah. Petani yang ditampilkan dalam film ini (yang umumnya adalah transmigran) pun merasa pesimis dengan target ambisius presiden itu selain karena alasan diatas juga karna pengalaman mereka dalam membuka lahan disana.

Mahuze merupakan salah satu marga yang ada di Merauke adalah marga yang diangkat oleh Watchdoc sebagai simbol dari masyarakat Merauke dalam menolak pembukaan lahan sawit yang sebelumnya sudah mengambil sebagian hutan mereka tanpa persetujuan semua anggota marga. Disini Watchdoc menggambarkan bagaimana kekecewaan mereka ketika melihat alat berat yang masuk dan merusak ke dalam hutan adat mereka. Namun, mereka menggunakan cara–cara yang menunjukan bahwa mereka adalah masyarakat yang menghargai hukum untuk menolak hak tersebut dimana dalam film ini diperlihatkan saat mereka bernegoisasi dan membuat pernyataan sikap yang dipimpin oleh pemimpin marga. Namun sayang saat melaporkan kasus pengrusakan hutan adat pada polsek Merauke laporan mereka tidak dimuat dalam berita acara

Dalam film ini kita bisa belajar banyak dari masyarakat asli Merauke bagaimana cara mereka agar menghargai lingkungannya. Hutan yang mereka yakini adalah hal yang harus diwariskan untuk keturunan mereka agar anak cucu mereka bisa melangsungkan kehidupan dari hutan tersebut. bukan hanya untuk kebutuhan mereka saja, masyarakat Merauke pun turut menghargai mahluk-mahluk yang ada di hutan seperti dalam filmnya diceritakan bagaimana menjaga keseimbangan dalam berburu atau menebang pohon disana. Sepertinya wathdoc ingin mengajak penontonnya untuk tidak terbuai dengan godaan uang untuk merusak lingkungan dan belajar dari masyarakat asli Merauke untuk menjaga keseimbangan dengan alam, bukan hanya menjaga keseimbangan namun mereka pun sangat menghormati hutannya. Karena disini juga menggambarkan bagaimana kerusakan lahan akibat pembukaan lahan untuk penanaman kelapa sawit oleh perusahaan swasta mengakibatkan air mereka tercemar dan tanah mereka rusak. Air sungai yang sebelumnya biasa mereka minum langsung ketika mereka pergi mencari ikan namun setelah ada perkebunan kelapa sawit mereka tidak bisa lagi meminum air sungai dan harus membawanya dari rumah. Dan mirisnya perusahaan tidak berbuat apa – apa untuk menanggulangi kerusakan yang mereka buat.

Dan film ini pun menyadarkan kita bahwa ternyata permasalahan di Papua bukan hanya soal keterbelakangan pendidikan dan freeport saja namun juga terdapat perampasan lahan seperti ini sangat disayangkan melihat ketika pemerintah kita justru yang menjadi dalang dibalik pengalihan lahan di Papua bersama investor asing. Dan sebenarnya banyak permasalahan tentang perampasan tanah atau pengalihan fungsi lahan semacam ini seperti kasus pabrik semen di Rembang, reklamasi tanjung benoa dan banyak lainnya. Nampaknya publik harus mengapresiasi karya – karya Watchdoc yang konsisten mengangkat isu – isu seperti ini. Isu yang tidak pernah diangkat oleh media massa mainstream di negri ini.

Bisa ditonton secara gratis di : https://www.youtube.com/watch?v=MSVTZSa4oSg

 

Afzal_

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *