Instan

Teknologi telah membawa manusia pergi jauh dari akarnya. Manusia terus mempercanggih gadget dan kendaraan yang manusia pakai. Cita-cita manusia kini adalah memiliki kehidupan mewah dan tinggal di kota metropolis. Hedonism menjadi candu, dan uang menjadi Tuhan. Namun sungguh, apakah kita tidak merasa lelah? lelah menghamba pada mesin yang tidak berhenti berkembang, pada kota yang memanjakan dengan kerlap-kerlip lampunya. Apa yang kita anggap memikat, justru malah mengikat. Apakah kita tidak ingin pergi sejenak dari ingar bingar ini?

Segala hal yang hanya ada di film fantasi, kini mejadi realitas. Televisi ada di genggaman tangan, kendaraan bermotor tidak lagi ber’gigi’, rol film sudah tidak diperlukan lagi, sidik jari sudah bisa dipakai untuk absensi, retina mata menjadi salah satu syarat kartu tanda identitas, rokok elektrik hadir sebagai gaya hidup yang (katanya) lebih sehat, dan sebagainya. Kita berangkat dari sekumpulan manusia nomadic yang mesti berburu binatang untuk bertahan hidup, menjadi sekelompok manusia yang menetap untuk bercocok tanam, lalu akhirnya menjelma menjadi sekumpulan pekerja kantoran yang mencari uang untuk membeli makanan. Semua semakin instan. Tanpa kita sadari, segala sesuatu yang instan sudah pasti punya efek samping.

Menjadi manusia modern membuat kita lupa menikmati ’antara’. Padahal, ada ’antara’ di tengah-tengah satu dan lain hal. Ada ’antara’ di rumah dan kampusmu, ada ’antara’ di kota tempat kau tinggal dan tempat wisata yang kau sukai. Sayangnya, banyak dari kita senang sekali memburu-buru ’antara’. Kita ingin cepat sampai tujuan. Atau, kalau tidak begitu, kita mengisi ’antara’ dengan banyak kegiatan, hingga akhirnya kita lupa menikmati perjalanan yang diberikannya. Padahal, bukankah ’antara’ pada jadian dengan putus, ada ’pacaran’ di tengah-tengahnya ? Bukankah ’antara’ lahir dan mati ada ’hidup’ di tengah-tengahnya? Haruskah terdistraksi dengan selalu sibuk melakukan hal lain, di dunia maya misalnya ? Dunia maya memang adiktif. Begitu asyiknya, sampai kita terus-terusan main ponsel saat orang lain sedang menjelaskan sesuatu di hadapan kita. Padahal secara etika, kebiasaan seperti itu sangat tidak sopan. Mungkin kita lupa, bahwa berapapun banyaknya followers dan teman di kolom chat di dunia maya, tanpa seseorang yang benar-benar mengerti kita apa adanya di dunia nyata, kita akan tetap sendirian?

Manusia
Manusia adalah makhluk berpikir. Itu yang membedakan kita dengan ciptaan-Nya yang lain. Namun, manusia pun makhluk yang mempunyai emosi. Sayangnya, saat emosi sudah menghampiri, kita seringkali kehilangan daya untuk berpikir jernih. Kita lebih senang mengomentari yang dilakukan orang lain daripada merenungi perbuatan diri sendiri, lebih senang memberi kode, padahal dialog lebih memberikan titik terang, lebih senang menghilang, padahal pertemuan lebih memberikan gagasan, dan lebih senang mendramatisir keadaan, padahal masalah seharusnya diselesaikan, bukannya diperpanjang.

Kita terlalu mengamati hal yang makro, lalu lupa melihat yang mikro. Kita membantu memecahkan masalah-masalah besar di luar, tapi lupa membereskan masalah-masalah kecil yang ada dalam diri kita. Kita sibuk menggapai mimpi-mimpi besar, lalu lupa berterima kasih atas perhatian-perhatian kecil dari keluarga dan sahabat kita. Kita dibutakan hasrat menginginkan sesuatu, hingga dengan teganya menyingkirkan segala hal yang merintanginya. Dan sepertinya, sudah kodrat kira untuk membesarkan masalah kecil, lantas lupa memperkecil masalah besar.

Ah, kita memang senang membela ego kita sendiri. Dengan berdalih membela kebenaran, padahal kita sedang memberi makan ego kita. Kita lupa bahwa kebenaran memiliki banyak wajah. Kita menjadi manusia yang lebih senang mencaci daripada introspeksi, lebih senang menghakimi daripada mengkaji. Mungkin kita baru merasakan sakit hati yang teramat besar saat semua hal kecil di sekeliling kita yang begitu mencurahkan kasih sayangnya telah tiada. Hingga kita lupa hal paling sakral, bahwa kita manusia: diturunkan ke muka bumi untuk berbuat kebaikan pada alam dan sesama. Semoga kita selalu ingat bahwa kita tidak sendirian di bumi ini. Semoga kita tidak lupa untuk berbuat baik terhadap orang lain.

 

Fanata Gama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *