Insecurity tidak selalu buruk, Masa sih?

Judul buku      : Insecurity is My Middle Name

Pengarang       :  Alvi Syahrin

Penerbit           : Alvi Ardhi Publishing

Tahun terbit     : 2021

Tebal Halaman : 264

Setiap orang pasti pernah merasa insecure. Banyak penyebab yang melatarbelakangi timbulnya perasaan tersebut, entah itu fisik, keuangan, percintaan, kondisi keluarga, dll. Insecurity atau rasa minder membuat seseorang yang sedang mengalami perasaan seperti ini merasa menjadi orang yang paling menyedihkan dimuka bumi, merasa paling kurang beruntung, merasa tidak dicintai, dan pada akhirnya mulai menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, bahkan sampai memungkiri takdir yang telah ditetapkan oleh  tuhan.

Sungguh perasaan seperti itu bila berlarut-larut hanya akan menimbulkan hal-hal negatif yang merugikan, bukan hanya orang yang mengalaminya tapi bagi lingkungan sekitar nya pula. Dalam taraf normal, insecure memang merupakan hal yang lumrah terjadi. 

Merasa tidak cantik, merasa kurang sukses adalah hal wajar yang dirasakan setiap manusia di muka bumi ini. Pada dasarnya jika kita berpikir lebih rasional, insecurity bisa membawa manfaat yang besar bagi kehidupan kita jika bisa dimanfaatkan dengan baik tentu saja.

Paras yang tidak secantik orang lain, uang yang tidak sebanyak orang lain, jabatan yang tidak sebagus orang lain and another things that makes you feeling insecure sebenarnya bisa dijadikan sebuah motivasi besar bagi kamu dan kita semua untuk lebih giat berusaha, untuk bisa berkembang lebih baik.

Ada satu hal yang perlu kamu tekankan disini adalah jangan pernah jadikan standar hidup seseorang sebagai tuntutan mu dalam menjalani hidup, karena dengan itu kamu hanya akan merasa semakin kurang, pada akhirnya yang harus dijadikan tumpuan akhir dalam hidupmu adalah akhirat, boleh saja mengejar dunia tapi akhirat adalah hal mutlak yang harus dihadapi setiap orang bukan?, jadi bukankah harus akhirat yang menjadi titik juang paling besar dalam hidumpu?.

Buku ini, Insecurity is My Middle Name adalah sebuah buku bertema self development yang tujuan akhirnya adalah membuat seseorang bisa menerima dan berdamai dengan dirinya, dengan parasnya, dengan kehidupan keluarganya, dengan pendidikannya, dengan pekerjaan dan penghasilannya, dll. Buku ini berisi hal-hal yang sering kali menjadi pertanyaan umum atau poin-poin pokok penyebab someone feels insecure.

Ada 45 bab dalam buku ini yang secara runtut ditulis mulai dari penyebab seseorang merasa insecure, cara seseorang bangkit dari rasa insecure nya itu dan masih banyak lagi. Alvi Syahrin dalam buku ini menuangkan tulisan nya dengan bahasa-bahasa yang ringan dan sangat mudah dipahami oleh siapapun tak terbatas dengan usia. Ia bukan seperti menggurui lewat tulisannya, tetapi berusaha untuk menjadi teman, sehingga siapapun yang membaca buku ini akan merasa lebih nyaman dan bisa lebih membuka pikirannya untuk menyerap apa yang coba buku ini sampaikan.

Ada beberapa kiat-kiat penting yang juga penulis coba sampaikan didalam buku ini, kiat-kiat atau berbagai skill yang wajib dipelajari dizaman serba teknologi saat ini, tentu sangat bermanfaat bukan.

Setiap bab dalam buku ini mampu membuat siapapun yang membacanya hanyut dalam setiap baris kalimat yang ada dan menganggukan kepala sambil dalam hati mengatakan “Iya juga ya”, “Bener banget”, “Ih aku juga begitu” yang kata-kata tersebut diharapkan mampu membuka pemikiran mereka bahwa benar insecurity bukan menjadi suatu hambatan bagi seseorang melainkan motivasi besar dan sumber semangat gratis dalam hidupmu, tentu saja tidak mudah dalam proses nya ya, tetapi bukankah bunga selalu butuh waktu untuk mekar?

Buku-buku self development selalu bisa memiliki tempat berbeda dihati saya, jarang sekali saya temukan kesalahan yang begitu fatal dalam buku-buku self development, termasuk dalam buku ini, mungkin sampul bukunya sedikit kurang sesuai dan agak kurang menarik sehingga tidak bisa menjadi daya tarik utama buku ini, padahal banyak orang yang terlebih melihat sampulnya sebelum membaca, tetapi ternyata isinya justru sangat-sangat menarik dan membuat mu ketagihan untuk terus membaca tiap bab nya, bahkan mungkin menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Jadi memang benar ya, “Don’t Judge a Book by Each Cover”.

Esti_

Sumber Foto : Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.