Hilangnya Jati Diri Sebagai Anak Bangsa

Perkembangan zaman telah membawa kita pada fase yang amat problematis, dimana jalur informasi dan komunikasi hadir begitu cepat dan tanpa batas, kita selaku pemuda yang terdidik juga terninabobo oleh teknologi yang begitu canggih, di tambah lagi dengan era industri berbasis informasi ini menurut fukuyama akan menimbulkan the great distruption (kekacauan besar). Maka dari itu sebelum kita tergilas oleh zaman seperti ini marilah kita potret  perkembangan fase demi fase yang menunjukan eksistensi generasi muda dalam mempertahankan garis perjuangan dalam membela kebenaran serta keadilan yang berpihak kepada rakyat dan juga bersandar pada sifat humanistis, yang tentunya juga kita harus syukuri bahwa negeri ini memiliki kaum muda yang masih mempunyai jiwa progresif, solidaritas,       kepekaan dan  militant politik untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan Negara yang dirasa tidak adil. Meskipun kaum muda yang bergerak ke jalan raya masih merupakan kaum minoritas kritis di lihat dari jumlahnya secara keseluruhan, tetapi kekuatan yang kecil itu toh  cukup punya nyali politik, sehingga mampu memberi batas kewenangan bagi pemerintah untuk tidak terlalu berkuasa di samping itu juga sudah banyak para tokoh islam yang mengagumi para pemuda misalnya, Abdulah bin Masud yang mengatakan bahwa sungguh berhikmah kaum muda ketika belajar membela kebenaran dan juga Siti Aisyah yang mengatakan bahwa  bukan  orang lain  yang  menolong saya  melainkan  para  kaum  muda  inilah beberapa tokoh islam yang sangat senang akan perjuangan kaum muda tetapi apa perbedaannya kosep dan realitas yang terjadi.

Dalam  zaman  kontemporer banyak  para  intelektual muda  sering  berwacana mengenai kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap masyarakat tetapi sedikit sekali gerakan yang di bangun diakibatkan karena pergantian sistem yang membunuh pergerakan dari para intelektual muda.Padahal kita ketahui secara nyata bahwa sebagian besar perubahan di negeri ini adalah perubahan yang timbul dari generasi muda yang berjiwa kritis dalam membaca tatanan sosial yang terjadi, berangkat dari fenomena yang terjadi di sekitar saya maka tulisan ini saya sengaja buat untuk generasi muda yang baru akan merasa sakit dan senangnya pendidikan perguruan tinggi agar supaya mengetahui bagaimana perjuangan kaum pemuda yang bisa kita katakan mahasiswa dalam melawan kebijakan Negara yang tidak pro terhadap rakyat, marilah kita mereview kekuatan mahasiswa pada era sebelumnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya banyak gerakan yang di bangun oleh mahasiswa atau bisa kita katakan pemuda yang terdidik dan terdaftar di dalam perguruan tinggi dimana gerakan perubahan yang di bangun didasarkan pada satu kondisi dilematis bagi masyarakat umum, misalnya saja pada tahun 1998 gerakan reformasi yang dibangun oleh pemuda dalam menumbang rezimnya soeharto itu berangkat dari krisis moneter yang tejadi yang membuat krisis kepercayaan yang timbul dari rakyat Indonesia atas problem yang tidak mampu di ambil tuntas oleh bapak soeharto, akibat dari krisis inilah membuat para pemuda  yang berasal dari berbagai lembaga-lembaga yang melawan kebijakan di tambah dengan rakyat Indonesia secara umum turun ke jalan untuk melakukan demonstran untuk mengkritisi kebijakan bapak presiden soeharto perkembangan gerakan ini terus berlangsung dan memunculkan isu yang cukup radikal yakni menurunkan bapak soeharto dari bangku kepresidenan dan menuntut untuk reformasi. Gerakan ini pun semakin massif ketika mahasiswa mulai dari Jakarta hingga seluruh perguruan tinggi di tambah lagi berbagai macam ormas-ormas lainnya menduduki monas dan juga kantor DPR/MPR dan dalam gerakan itu ada sejumlah mahasiswa yang  menjadi korban dan bahkan ada sebagian hilang entah kemana, namun dengan gerakan itu juga akhirnya mampu menumbang rezim bapak soeharto tepatnya pada bulan mei.

Namun bukan hanya di tahun 1998 yang menjadi kekuatan pemuda, melainkan pada tahun sebelum 1998 ada juga berbagai macam gerakan pemuda yang di bangun tetapi konteks perlawanan nya berbeda kalau di tahun 1998 gerakan yang dibangun adalah untuk melawan rezim otoriter dan diktator lembaga pemerintahan tetapi di tahun sebelumnya ada gerakan yang melawan penjajah kolonialis yang menguasai kawasan nusantara ini demi meraih dan mempertahankan kemerdekaan yakni misalnya gerakan Budi utomo, sampai pada 28 oktober 1928 memunculkan sebuah ikrar yang di bangun para pemuda dalam mengukuhkan sebuah sumpah pemuda yang pada esensinya melepaskan kita dari penjajahan, dari beberapa pergantian fase diatas ini membuktikan bahwa bagaimana perubahan yang terjadi banyak di motori oleh kaum pemuda yang mempunyai integritas dalam melawan para lembaga dominasi yang zalim dan menindas. Kaum muda yang mempunyai jiwa berkobar-kobar dalam menyongsong perubahan sering mendapat respon yang negatif dari pembuat kebijakan, hal ini sebenarnya sudah di desain semasa Orde lama dan Orde baru.

Kaum muda negeri ini yang sedang berada di luar negeri dapat disebut sebagai entitas trans – nasional yang Perannya tak bisa di abaikan. Mereka terjalin dalam satu benang gagasan yang melintas batas, memunculkan watak demokrasi trans-nasional. Sentiment – sentiment taransnasional tidak mengandalkan sentiment geografis tetapi  pandangan saya lebih pada sentiment – sentiment ideology. Boleh jadi, sebuah bangsa hanya memiliki jumlah kaum kritis  yang minimal, tetapi gagasan yang dibawa mereka akan senantiasa bergema menjadi wacana perubahan politik yang diapresiasi oleh rekan-rekannya di manca Negara. Memang benar bahwa gerakan kaum muda saat ini tidak  lagi  mengusung tentang nasib bangsa mereka, tetapi nasib umat  manusia dimuka bumi. Gagasan kiri dan kanan yang sering di perdebadkan kini telah mulai kehilangan pesona, digantikan oleh gagasan-gagagsan besar tetapi merupakan problem dasar kemanusiaan. Namun apakah eksistensi  gerakan  kaum  muda  masih  mendapat  tempat  di  era  reformasi  yang  menderasnya globalisasi ini. Reformasi memang menjadi tuntutan kaum muda saat itu tetapi reformasi yang dituntut  kaum  muda  bukan  reformasi  yang  menguntungkan segelintir  para  penguasa,      namun membela dan mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Ini sering terlihat dengan berbagai macam kebijakan yang dilakukan oleh para penguasa ketika melihat anak-anak negeri yang mempunyai nalar kritis dalam meneriakan soal kebenaran sering ditekan oleh para penguasa negeri ini baik itu melalui instansi-instansi terkait ataukah lewat sistem yang diskenariokan lewat aturan formal para penguasa, inilah yang harus di lihat oleh para intelektual muda di masing -masing perguruan tinggi yang nantinya menjadi tongkat perjuangan bangsa ini, sebab perlu kita memahami secara mendalam tentang apa fungsi dan tanggung jawab sebagai kaum muda yang mempunyai pengetahuan kritis. Tentunya pesan yang cukup membuka nalar perjuangan pergerakan kaum muda bahwa para intelektual bukanlah orang-orang yang mendapatkan gelar sarjana saja tetapi mereka yang terdidik dalam perguruan tinggi adalah orang-orang yang merasa tertindas dan keterpanggilan moril ketika masyarakat mendapat tirani dari para penguasa. Dan dalam pandangan saya juga bahwa kalau ingin menjadi intelektual maka jadilah intelektual kolektif yang hidup dan hadir bersama-sama kaum tertindas. Di tambah lagi dalam pencermatan saya di era reformasi ini para penguasa banyak yang bermain dengan hukum, bahkan sebagian hakim pun yang menangani nya masih juga terindikasi terlibat korupsi, kolusi dan nepotisme. Ditambah lagi dengan sistem yang sering di ciptakan  adalah  untuk  menutupi  kesalahan  para  penguasa,  hal-hal  inilah  yang  sering  menjadi masalah urgent ketika kaum muda ingin membangun gerakan. Tanpa sadari juga faktor -faktor pemicu ini juga yang menyebabkan hilangnya jati diri sebagai anak bangsa, memang benar bahwa banyak sekali generasi muda yang berada di bangku perguruan tinggi tetapi hanya sedikit yang mempunyai nalar kritis dalam melihat kondisi perguruan tinggi yang didesain oleh para penguasa tentunya ketika kita melihat fenomena ini kita akan bertanya-tanya apa penyebabnya? Namun kita sendiri bisa menjawab hal itu sesuai  dengan dinamika yang terjadi saat-saat ini dimana uang lah yang menjadi perioritas penguasa dalam mempertahankan kekuasaan dan menambah kekayaan sehingga melupakan tanggung jawab mereka selaku pendidik dan pengarah dimuka bumi ini dan juga status quo yang menjadi tujuan akhir mereka, hal inilah yang membuat mereka melupakan satu peribahasa yang mengatakan bahwa kaum muda sebagai pemerhati bangsa di dalam diri kaum muda terdapat  banyak  potensial  yang  harus  ia  kembangkan bukan  di  bungkam  oleh  para  penguasa selanjutnya ada satu alasan lagi yang sering digunakan para penguasa yakni zaman telah modern dan seluruh kebutuhan sudah dengan mudah kita miliki, sehingga dalil yang dibangun bahwa gerakan kaum muda adalah gerakan yang sudah anakronistis, dan lebih anehnya lagi adalah para generasi muda sering menjadi kerbau-kerbau para penguasa di perguruan tinggi yang pada hakikatnya kita mengetahui bahwa yang salah harus dilawan tetapi kesadaran itu sengaja ditutup oleh para penguasa dengan pendekatan aturan formal yang dibuatnya penguasa bukanlah tuhan sementara kaum intelektual muda bukanlah kerbau yang hanya mengikuti kemauan tuhannya seenak-enaknya saja. Kalau sampai hal ini terjadi maka itu berarti kita telah melenceng jauh dari esensi pendidikan  itu sendiri yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan telah hancurnya dan hilangnya jati diri kita yang menjadi fitrah dalam diri manusia, konklusinya mata hati kita tel ah tertutup oleh kejahatan besar yang dibuat para penguasa. Sebab ketika hati kita tertutup pada akhirnya dapat memudarkan bahkan menghilangkan jati diri seseorang , harus diakui bahwa tidak semua orang mampu menampilkan jati dirinya secara utuh. Bagi saya mereka yang sering berlindung dibalik kedok umumnya hanya mampu menampilkan diri secara lahiriah saja,  sementara jati dirinya dibiarkan tertutup oleh kepura- puraan sehingga perlahan tapi pasti akan redup, pudar, atau hilang dengan kata lain, hati sudah tidak lagi sebagai filter bagi pemiliknya. Kenapa jati diri sebagai anak bangsa harus hilang tentunya jawabannya sangat sederhana yakni kepribadian manusia adalah hasil perpaduan yang didapat dari faktor keturunan yang disebut genetik, yang menghasilkan kecerdasan dan merupakan sesuatu yang sulit dirubah.

Ibrahim Yakub

Mahasiswa Universitas Khairun Ternate

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *