Generasi Kekinian dan Bahasa Indonesia yang Mulai Pudar

Generasi muda masa kini yang kerap kita dengar sebagai “generasi kekinian”, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tergerusnya bahasa Indonesia di negeri sendiri. Mereka adalah generasi yang hebat menggunakan teknologi tetapi tak sadar terdapat beberapa hal yang diam-diam terpengaruhi, salah satunya dalam hal bahasa. Pasalnya banyak dari “generasi kekinian” lebih bangga ketika menggunakan bahasa asing daripada bahasa ibu sendiri.

Setiap peringatan sumpah pemuda 28 Oktober, selalu diingatkan bahwa para pemuda telah berjanji bertanah air, berbangsa, dan berbahasa yang satu, yaitu Indonesia. Namun dalam praktik sehari-hari mereka lebih sering menggunakan bahasa asing sebagai padanan kata dari pada bahasa Indonesia. Misalnya, orang-orang ketika berkomunikasi lebih sering menggunakan kata handphone daripada telepon genggam, menggunakan kata network daripada kata jejaring, dan download daripada kata unduh.

Selain itu, anak-anak muda lebih menggandrungi budaya luar daripada budaya sendiri. Mereka lebih tertarik membaca buku-buku berbahasa asing. Mereka lebih tahu Twilight-nya Stephanie Mayer daripada Burung-Burung Manyar-nya Y.B. Mangunwijaya. Kurang minatnya generasi muda untuk membaca karya dalam negeri menyebabkan sastra lama yang ada di Indonesia kurang dikenali. Padahal hal tersebut merupakan salah satu khazanah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Generasi kekinian lebih sering menggunakan media sosial untuk mengekspresikan diri. hal yang dikhawatirkan adalah banyaknya kiriman generasi muda di sosial media yang ditulis menggunakan bahasa asing, misal menggunakan bahasa inggris sehingga hal tersebut lama kelamaan akan menyebabkan pudarnya bahasa Indonesia.

Banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai generasi muda untuk tetap melestarikan bahasa ibu kita, bahasa Indonesia. Yaitu salah satunya tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari. Masyarakat Indonesia seharusnya berbenah diri dan bangga dengan bahasa Indonesia. Dengan demikian, apabila kita ingin mempertahankan eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan caranya adalah dengan kita mendalami bahasa menurut fungsinya yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, sehingga bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa tidak akan hilang tergerus zaman.

Halimah Nina Rahmawati

Staf Redaksi 2016

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *