Fakta yang Disembunyikan

Mentari pagi mulai menampakkan kehadirannya, memberikan kehangatan bagi orang-orang dengan sinar oranye. Suara ayam mulai bersahutan membentuk melodi pengisi pagi, cukup untuk membuat orang terbangun dari lelapnya malam. Jam dinding menunjukkan pukul 05.30 WIB, tapi ibu telah bersiap dengan gerobak sampah dan seragamnya.

“Put, sarapannya sudah Ibu siapkan. Uang saku untuk kamu dan Bintang ada di meja kamar kamu. Oh ya, jangan lupa nanti bangunkan bapakmu ya?” ucap Ibu padaku.
“Baik, Bu. Ibu hati-hati ya,” balasku sembari menjabat tangannya.
“Iya, Ibu pamit dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Setelah aku menjawab salamnya, kulihat ibu pergi mendorong gerobak sampahnya menuju rumah-rumah warga. Setiap pagi telah menjadi rutinitas ibu untuk keliling mengambil sampah. Kemudian sore harinya berkeliling lagi menjajakan kue buatannya. Maklum, bapak hanya seorang sopir angkot. Kehidupan kami yang pas-pasan membuat ibu harus ikut banting tulang mencari nafkah untuk membiayai aku dan adikku. Terkadang, perasaan tak tega selalu hinggap ketika aku melihat ibu diam-diam memijat kakinya yang pegal akibat terus-terusan berkeliling. Ketika aku bertanya ‘Apa Ibu baik-baik saja?’ ibu selalu menjawab dengan mantap bahwa ia baik-baik saja. Ibuku memang ibu yang hebat.

Menyadari matahari semakin tinggi, aku pun segera membangunkan bapak dan pergi mandi untuk ke sekolah. Sekolahku dan adikku berbeda. Aku duduk di bangku kelas VII SMP Negeri di daerahku, sedangkan adikku masih duduk di bangku kelas 1 SD.

“Put, Ibumu cuma masak nasi dan tempe ya?” tanya bapak padaku yang sedang mengenakan sepatu.
“Iya, Pak. Ibu tadi berangkat pagi-pagi sekali,” jawabku mencoba memberi pengertian pada bapak.
“Halah, yasudahlah, Bapak sarapan di luar aja. Bapak pergi dulu.” Aku hanya bisa menghela napas mendengar ucapan bapak. Terkadang bapak memang seperti itu, suka mengeluh apabila makanan yang tersedia tidak sesuai keinginannya. Padahal, sudah untung bisa makan tiga kali sehari.

Tanpa menunggu lama, aku dan adikku pun bergegas menuju sekolah. Tak ada kendaraan di rumah. Untuk naik kendaraan umum pun sayang pada uang saku yang tak seberapa. Aku dan adikku sudah terbiasa jalan kaki meskipun sekolah kami terbilang jauh.

*****
Hari ini jadwal sekolahku cukup padat. Alhasil, aku pulang sekolah pada sore hari sekitar pukul 15.30 WIB. Ketika aku sadar bahwa jam segitu adalah jadwal ibu berjualan kue, aku pun memutuskan berbelok ke taman kota, tempat biasa ibu menjajakan kue-kuenya.

Baru beberapa langkah memasuki taman kota, pandanganku teralihkan pada dua sosok manusia yang duduk di bangku taman. Kedua tangan mereka saling mengenggam dan tak ragu menunjukkan kemesraan layaknya pasangan. Tidak! Tidak mungkin! Hatiku menjerit. Tetes demi tetes air mata tak sadar telah mengalir membasahi kedua pipiku. Seolah dihantam dari segala sisi, aku merasakan dadaku sesak. Kedua tanganku gemetar menyaksikan sosok yang begitu aku kenal tega berbuat hal demikian. Merasa tidak kuat, aku pun berbalik pergi. Berlari meninggalkan taman yang menjadi saksi atas pengkhianatan dan dosa.

Malam harinya, rembulan mulai menampakkan cahayanya. Langit yang mulanya berwarna terang kini telah tergantikan oleh pekatnya malam. Suara-suara jangkrik saling bersahutan menjadi melodi pemecah keheningan antara aku dan ibu. Di pojokan kamar berdinding triplek itu, aku melihat ibu melipat baju-baju lusuhnya. Aku masih terpekur dengan pikiranku sendiri. Bayangan kejadian sore tadi selalu menghantui. Menekan kuat-kuat ulu hatiku, membuatku sesak dan tak berdaya oleh rasa ketidakpercayaan yang merongrong jiwa. Kulihat lagi wajah ibu, wajah yang dulu seterang mentari itu kini mulai meredup dengan keriput-keriput di bawah mata dan pipinya. Tubuh yang dulu tampak berisi itu mulai layu dan ringkih tergerus oleh kerasnya kehidupan. Ragu-ragu, aku memberanikan diri memanggilnya, mencoba bertanya akan kebenaran yang terjadi pada sore tadi di taman kota.

“Bu,” panggilku.
“Ya?” jawab ibu masih dengan kegiatannya melipat baju.
“Ada yang ingin aku tanyakan,”
Sebelum menjawab, ibu memalingkan wajahnya sejenak ke arahku dan tersenyum simpul.

“Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu? Kau seperti sedang banyak pikiran,” tanyanya.
“Kenapa Ibu berbohong?” tanyaku dengan suara pelan. Aku tak tahu, dari sekian banyak kata yang berputar di otakku, hanya kata itulah yang mampu ku ucapkan.

Mendengar pertanyaan itu, ibu memandangku dengan kedua alis terangkat, bingung.

“Apa maksudmu, Put? Berbohong tentang apa?” tanya ibu dengan suaranya yang lembut.

“Tentang bapak.” Hening sejenak. Tak ada sahutan dari ibu. Tangannya yang sedari tadi sibuk melipat baju itu pun kini telah berhenti. Menyadari tak ada jawaban darinya, aku kembali bersuara.

“Bu? Kenapa hanya diam?”
“Ibu-, Ibu tidak tahu apa maksudmu Put,” jawab Ibu dengan ragu.
“Ibu tahu, Puput yakin Ibu tahu. Ibu hanya berusaha menyembunyikan semuanya dari Puput,” Aku melihat ibu menunduk dengan kedua tangannya yang saling berkaitan. Sembari menghela napas, aku kembali melanjutkan ucapanku.

“Tadi sore, Puput melihat bapak bergandengan tangan dengan Bu Ratna di taman kota. Tempat biasa Ibu berjualan kue. Bapak dan Bu Ratna tampak mesra. Awalnya Puput ingin menghampiri mereka. Namun, sayang…” Aku menghentikan ucapanku sejenak, melihat ke arah ibu yang makin menundukkan kepalanya. Mau setegar apapun, aku tahu, ibu sedang menahan tangisnya.

“Puput melihat Ibu di sana, berdiri di depan bapak dan Bu Ratna sembari menyerahkan uang hasil jualan Ibu ke bapak.” Setetes air mataku jatuh setelah mengucapkan kalimat itu. “Kenapa Ibu berbohong? Ibu bilang bapak jarang pulang karena bapak sibuk bekerja, Ibu bilang bapak adalah pria yang sangat mencintai keluarganya, Ibu bilang-” ucapanku terhenti oleh permintaan maaf ibu.

“Maaf, Ibu memang pembohong,” Setelah mendengar itu, aku dekati ibu. Kupeluk ia seerat mungkin. Kini, kami berdua sama-sama meneteskan air mata. Gejolak yang sedari tadi menikam itu aku tumpahkan lewat linangan air mata. Bayangan ibu yang berdiri di depan bapak dan selingkuhannya itu semakin membuat dadaku sesak. Tak terbayang rasa sakit yang dirasakan ibu melihat suami yang sangat dicintainya memilih mendua.

‌Pelukanku mengerat ketika kusadari isakan ibu kian mengeras. Ku usap punggung ringkihnya. Air mataku kembali mengalir ketika aku sadar betapa rapuhnya tubuh yang kupeluk ini. Betapa berat beban yang dipikulnya di tengah usia yang tidak lagi muda, dan betapa kejamnya bapak yang membiarkan ibu menjadi tulang punggung keluarga sedangkan ia enak-enakan dengan gundiknya.

Setelah kami berdua mulai tenang, Aku lepaskan pelukanku. Ku tatap mata ibu yang sembab –sama sembabnya dengan mataku–. Ku usap beberapa tetes air mata yang tersisa di ujung kelopak matanya. Perlahan, aku kembali bersuara.

“Sejak kapan Ibu tahu bapak selingkuh?”
“Lima bulan yang lalu,” Ibu menjawab dengan amat pelan, sesekali masih disertai isakan. Aku ingat, lima bulan yang lalu adalah waktu di mana aku memergoki ibu menangis diam-diam di dapur.

“Lalu kenapa Ibu diam saja? Kenapa Ibu tidak minta cerai?”
“Put, cerai bukanlah perkara yang mudah. Ibu adalah seorang istri, juga Ibu dari kamu dan Bintang. Mungkin kamu akan mengerti, tapi Bintang? Ia masih sangat kecil untuk mengerti semuanya, dan lagi, ia masih membutuhkan sosok bapak dalam hidupnya. Ibu hanya tidak ingin egois,” Ibu mengucapkan itu sambil tangannya mengelus rambutku lembut. Entah mengapa, ketegaran yang ditampilkan ibu justru membuatku bertambah sakit.

“Tapi bapak bukanlah sosok bapak yang baik untuk kami, Bu. Bapak egois. Bapak mementingkan kesenangannya sendiri, bapak tega membiarkan ibu pontang-panting mencari uang, bapak tega menghianati Ibu. Puput tidak mau punya bapak seperti itu, Bu,”

“Sssst.., tidak baik berkata seperti itu,”
“Biarkan saja, bapak memang pantas mendapatkan itu,” Aku memalingkan wajahku ke arah samping, mendengus sebal dengan kesabaran yang ibu miliki. Membayangkan ibu yang setiap pagi hingga sore harus berkeliling menjajakan kue buatannya untuk menghidupi kami membuatku bertambah sesak. Sementara bayangan bapak yang sedang bermesraan dengan Bu Ratna adalah bayangan paling menjijikan yang pernah ada dalam ingatanku.

“Kita doakan saja, semoga bapak menyadari kesalahannya dan kembali seperti dulu lagi,” Mendengar itu, aku kembali memandang ke arah ibu. Kugenggam tangan ibu erat.

“Bu, mulai sekarang Ibu jangan berjuang sendiri ya? Ibu punya Puput, Ibu punya Bintang. Kami berdua akan selalu di samping Ibu. Jadi, Ibu jangan sedih lagi ya?” Pintaku pada ibu. Ibu hanya tersenyum kemudian memelukku. Perlahan, aku dengar ibu berbisik pelan.

“Selama Ibu punya kalian, Ibu akan selalu bahagia,”

 

Aula F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *