Etnografi Ngawur Kesetaraan Gender di Ruang Publik

lpmmotivasi.com- Pada Abad ke-21 ini, wacana dan bahasan kesetaraan gender sangat populer di dunia. Hampir seluruh negara sangat antusias oleh gerakan yang bisa disebut politik, ekonomi, dan budaya. Kesetaraan gender memang menjadi semangat gerakan feminis untuk diakui secara sederajat atau punya kedudukan yang sama di ruang publik termasuk dalam hak politik untuk setara dengan kaum laki-laki. Untuk itu, International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Sedunia diperingati setiap tanggal 8 Maret. Pada hari itu, aktivis perempuan dengan gelora menyatakan wacana “Kesetaraan Gender” sebagai hak atas setiap umat di depan publik. Dengan adanya keadilan gender, diharapkan tidak ada lagi konstruksi sosial perempuan di masyarakat terlebih ruang publik.

Seperti kita ketahui, saat ini masih banyak orang yang mendiskriminasikan gender terhadap perempuan. Nampaknya Indonesia sendiri tetap masih berkutat dan belum dapat beranjak, hingga kesetaraan gender menjadi isu penting. Artinya, pokok persoalan korelasi antara laki-laki dan perempuan terletak pada sistem dan struktur hukum yang belum seimbang. Gender merupakan konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang terjadi dari keadaan sosial dan budaya masyarakat. Membicarakan kesetaraan gender secara harfiah dalam isu ini hanya akan memperkeruh keadaan. Diperlukan analisis sosial agar edukasi kesetaraan gender dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Perempuan dalam menghadapi tantangan penjajahan yang sudah ada sejak lahir memang cukup pelik. Apalagi menginginkan terwujudnya kondisi penghapuskan beban ganda, subordinasi, marginalisasi, kekerasan, dan pelabelan terhadap isu perempuan. Namun, tidak mungkin hal itu tidak dapat terjadi dalam kondisi masyarakat di era post-truth ini. Etnografi keliru kesetaraan gender di ruang publik yang berkembang saat ini perlu diluruskan. Seperti hal-hal sepele yang sebenarnya itu bukan merupakan kesetaraan gender, tetapi karena atas nama perempuan, hal tersebut menjadi kesetaraan gender berubah denotasinya. Seperti kalimat yang menyatakan bahwa perempuan dilahirkan memiliki keistimewaan, tetapi mengapa malah mereka meminta disamakan dengan laki-laki? Kalimat ini sering dijumpai ketika menggugat konsep kesetaraan gender.

Mengapa masih ada pemikiran seperti itu? Setara dalam frasa kesetaraan bukan berarti sama. Memperjuangkan kesetaraan gender bukan berarti menuntut perempuan untuk menjadi sama dengan laki-laki. Ketika perempuan mengetahui pemikiran seperti ini, hendaknya ia mendobrak konstruksi sosial alpa agar pemikiran ini tidak merembet dan menjadi stigma masyarakat. Ada baiknya mengetahui itu sebagai perempuan juga tidak serta-merta melabeli bahwa konstruksi sosial laki-laki dianugerahi kelebihan sehingga harus memegang semua kepemimpinan. Malah keadaan seperti itu juga menjadi beban untuk laki-laki. Sesuai dengan hal itu, baik perempuan maupun laki-laki bisa sama-sama menjadi pemimpin, bisa dalam spektrum feminitas-maskulinitas.

Selain persoalan di atas, etnografi keliru yang mengatakan wanita selalu mendapatkan keistimewaan lebih daripada laki-laki seperti kekuatan fisik sering kita temui. Soal berbagi beban terlebih urusan fisik ini lebih mengarah pada masalah kemanusiaan bukan mengistimewakan salah satu gender. Bukan juga malah mengejek dan melontarkan sumpah serapah, “Katanya kesetaraan gender? Masa kaya gitu harus laki-laki?” setop! Ini pemikiran yang salah. Sebagai laki-laki tidak ada salahnya membantu perempuan angkat beban ketika dirasa ia mampu membantunya. Namun, perlu dicatat juga bahwa tidak semua laki-laki memiliki kemampuan fisik daripada perempuan, sangat mungkin terjadi hal sebaliknya. Mengetahui situasi dan kondisi antara laki-laki dan perempuan dan mengambil pikiran rasional itu jauh lebih baik daripada mengedepankan ego masing-masing.

Pada akhirnya apakah untuk menjadi feminis harus mengikuti kaidah tertentu hanya dengan banyak teori? Apakah tidak cukup punya semangat kesetaraan dan melakukan tindakan nyata dalam berbagai bentuk? Berserikatlah perempuan yang memperjuangakan haknya, diskusikan untuk saling membuka wawasan, perempuan mengambil peran. Memperjuangkan kesetaraan memang bukan hal yang mudah. Butuh upaya besar, kontinuitas, dan mencoba banyak cara karena beda orang beda pola pikir dan cara penerimaan. Emansipasi butuh puluhan tahun di Indonesia, mungkin isu orientasi seksual pun begitu.

 

 

 

Muhammad Sukma Aji 

(Pemimpin Umum LPM Pabelan Periode 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *