Dunia Jurnalistik Tak Lepas Dari Kode Etik Jurnalistik

“Melalui acara SCTV Goes to Campus, beberapa reporter presenter berita SCTV memberikan kiat khusus untuk bertahan di dunia jurnalistik. Meski saat ini banyak media telah ditunggangi kepentingan politik dan bisnis, namun seorang reporter haruslah setia pada kode etik jurnalistik.”

Selasa, 24 Maret 2015 merupakan hari pertama “SCTV Goes To Campus”. Acara yang dihelat adalah lomba News Presenter. Acara SCTV Goes to Campusdi Auditorium UNS ini bertujuan untuk memperkenalkan dunia jurnalistik serta menjaring bibit-bibit jurnalis dari para mahasiswa. Terkait dengan hal tersebut Senandung Nacita sebagai salah satu pengisi talkshow memberikan beberapa kiat mengingat beberapa media jurnalistik dewasa ini ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik. Wanita yang mengawali karirnya sebagai wartawan freelance ini berpesan agar para mahasiswa tidak perlu risau tentang media-media berita yang sudah tidak netral. Menurut Nacita yang terpenting bagi para mahasiswa adalah terus menggali minat dan passion di dunia jurnalistik, sehingga idealisme sebagai jurnalis akan semakin terbentuk. “Pikirkan saja tentang mengasah minat, passion, yang bisa dilatih dengan menjadi citizen jurnalism. Dengan begitu nanti idealisme akan tumbuh dengan sendirinya,” ujar Nacita.

Selaras dengan Nacita, Retno Pinasti juga memberikan beberapa kiat bagi para mahasiswa untuk menjadi jurnalis. Ia mengatakan bahwa dewasa ini perkembangan jurnalistik biarpun sudah lepas dari masa represi sejak tahun 1998, namun dunia jurnalistik masih dikekang oleh kepentingan politik ataupun kepentingan bisnis. Menanggapi permasalahan tersebut Retno mengharapkan para jurnalis muda harus ingat dengan kode etik jurnalistik. “Setia sama idealisme jurnalistik yang dipelajari dan diyakini sejak muda. Jangan sampai terjebak jadi wartawan bodrek, atau wartawan yang nyari amplop,” tuturnya.

Retno bercerita bahwa ia pernah beberapa kali mendapat uang suap. Namun ia menolak uang-uang tersebut karena mempertahankan idealismenya. “Saya tidak ingin show saya diatur-atur kepentingan politik dalam penayangannya, jadi saya tidak bisa terima itu,” paparnya. Ia mengatakan bahwa independensi itu memang mahal. Jadi selama masih menyandang title sebagai jurnalis, independensi haruslah dijaga.

_Aristi & Aning

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *