Dongeng Kampus Kerakyatan

Kasus protes yang diajukan oleh 10 anak yang tidak lolos bidikmisi menjadi kasus yang menguatkan predikat ‘kampus mahal’ bagi UNS yang dulunya terkenal sebagai universitas rakyat. Bahkan satu diantara mereka memilih mengundurkan diri, daripada tidak kuat membiayai perkuliahan. Logis ketika memilih keluar karena tidak mampu membayar. Namun apakah tidak ada pilihan lain yang mampu ditawarkan universitas terbaik ke-4 versi 4ICU.org ini?

Patut dirindukan bagaimana UNS menyikapi perkembangan zaman dengan tenang. Bukan dengan terburu-buru menjadi World Class University atau sekelas Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) dengan segala kemewahannya. Besaran yang makin membengkak meruntuhkan nama kampus kerakyatan yang dulu pernah disandangnya. Spekulasi pun muncul mengenai besaran UKT.

Kampus kerakyatan yang mulai mengejar nama kampus Internasional ini makin berulah. Kasus internasionalisasi prodi yang belum tahu arah akademisnya sendiri, buru-buru mengadakan pembangunan fasilitas yang tidak jelas kebutuhannya, hilangnya bantuan yayasan supersemar dan kasus lain yang menjadi indikasi mengapa biaya perkuliahan makin mahal menjadi bom waktu yang siap meledak.

Jika kasus biaya yang makin mahal ini terus mencuat ke publik, mbok ya mereka yang di rektorat itu sadar untuk kembali memberikan bantuan lewat yayasan semacam supersemar atau setidaknya santai dulu mengenai pembangunan yang megah-megah itu. Jangan sampai fasilitas yang makin tersedia menjadi pembenaran untuk menaikan harga biaya perkuliahan. Jangan sampai pula Kampus kerakyatan hanya dongeng belaka.

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *