Dibalik Calon Tunggal Rektor UNS

lpmmotivasi.com- Di tahun 2019 ini, Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan pergantian rektor setelah dua kali masa kepemimpinan Prof. Ravik Karsidi. Serangkaian tahap telah dimulai pada bulan November tahun lalu. Pada pemilihan rektor tahun ini terdapat lima bakal calon rektor UNS, yaitu Prof. Jamal Wiwoho, Prof. Sutarno, Prof. Widodo Muktiyo, Prof. Furqon Hidayatullah, dan Prof. Muhammad Nizam. Rabu (06/02/2019), terpilih tiga nama Calon Rektor UNS yaitu, Prof. Jamal Wiwoho, Prof. Sutarno, dan Prof. Widodo Muktiyo.

Setelah diadakannya sidang senat tertutup yang menghasilkan tiga calon rektor, pada tanggal 14 Februari 2019 diadakan musyawarah antara ketiga calon rektor, senat, dan Kemenristekdikti. Pada musyawarah itu akhirnya ditetapkannya Prof. Jamal sebagai calon tunggal rektor UNS yang diajukan ke Kemeristekdikti. Terpilihnya Prof. Jamal sebagai calon tunggal rektor UNS justru memunculkan berita-berita yang menimbulkan kecurigaan. Terdapat berita yang mengatakan bahwa dua calon lain, yakni Prof. Sutarno dan Prof. Widodo Muktiyo, justru memberikan kesempatan kepada Prof. Jamal sebagai calon terpilih supaya timbul adanya suasana sejuk.

“Kita tanya sama Pak Sahid, ketua panitia itu oke-oke aja. Cuma aku juga nggak paham kenapa Prof. Widodo sama Prof. Sutarno melimpahkan kepada Prof. Jamal karena itu yang tidak dijelaskan. Emang pertarungan untuk meraih jabatan seperti itu kalau sejuk itu pertanyaan. Ada apa dengan kata sejuk itu.”. Ujar Faith Aqila Silmi, selaku Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS.(22/2) Menurut Faith, kondusitas tidak bisa dijadikan sebuah alasan, hal itu hanya akan menimbulkan kecurigaan. Faith juga menambahkan jika tidak ada masalah ketiganya maju sampai tahap akhir, karena ia merasa mereka sama-sama memiliki visi dan misi yang baik.

Selain itu, muncul anggapan bahwa Prof. Jamal sudah digadang-gadang sebagai calon tunggal rektor UNS sebelum adanya pemilihan. “Menurut saya sebagai warga UNS, mungkin ini hanya buat formalitas biar keliatan prosesnya saja lebih demokratis,” ungkap Muhammad Arif Sudarsono, Pendidikan Ekonomi 2016.(22/2)

Sama halnya dengan yang dikatakan Ressa Ambarwati, Pendidikan Sosiologi & Antropologi 2017, “kalo semisal kita langsung nunjuk ga ada kayak pemilihan rektor, jadi itu kan nanti politiknya di kampus ini berkurang. Terus kalo langsung ditunjuk jadi ga tahu, kok tiba-tiba ganti rektor”.

Ketika dikonfirmasi mengenai kabar yang beredar, Ketua Senat, Prof. Suntoro menjelaskan bahwa semua bukan keputusan sepihak dan dilakukan melalui proses pemilihan. “Calonnya itu tetep tiga. Kesepakatan bertiga itu bukan kesepakatan sepihak. Semuanya akan tetep dilakukan proses pemilihan pada tahap selanjutnya. Pada saat pemilihan aturannya menyebutkan bahwa, bisa dilakukan bahkan diutamakan dengan musyawarah mufakat. Kalau tidak mencapai kesepakatan baru dapat dilakukan pemilihan. Pemilihan dalam arti untuk voting. Dilaksanakan tgl 13 – 30 Maret. Jadi tetap ada proses pemilihan dan di pemilihan dibenarkan adanya musyawarah mufakat,” jelasnya.(25/2) Ia juga menambahkan jika musyawarah itu bukan musyawarah yang hanya dilakukan ketiga calon, melainkan bersama menteri karena memiliki hak suara 30%.

Ia juga menampik adanya istilah calon tunggal rektor UNS. “Bukan calon tunggal. Tetep calonnya tiga. Jadi tetep kita masih ada satu tahapan,” ungkapnya. Ia juga mengatakan sejuk yang dimaksud itu ialah sudah adanya sepemahaman antara ketiga calon tersebut, menurutnya jika sudah ada sepemahaman berarti sudah tidak ada trik-trik dan sebagainya.

Mengenai harapan untuk rektor baru UNS kedepannya Faith menuturkan, “intinya UNS itu, kampus itu kan miniatur jagad raya. Dari kata universe. Kita itu membaca ayat-ayat Tuhan. Maka jangan sampai kampus itu tidak menjalankan fungsinya.” Faith juga menjelaskan mengenai bagimana fungsi itu dapat terlaksana. Pertama, menjamin kebebasan akademik melalui bersuara atau segala macam dan secara bertanggung jawab. Kedua, menciptakan daya kritis , daya pikir. Ketiga adalah melawan kemodifikasi pendidikan. Ketiga hal itu yang menurutnya menjadi masalah pokok dalam pendidikan Indonesia.

“Kalo saya sendiri, semoga lebih baik lagi. Lebih baik kita terbuka dan benar-benar tahu kalo mereka (bakal calon rektor) itu bersaing buat jadi rektor. Lalu bisa memperbaiki kekurangan dari rektor sebelumnya dan memajukan UNS agar lebih baik lagi dari yang kemarin,” kata Muji Pangestu, Pendidikan Geografi 2017. (22/2)

 

Kamila Ridha Amalia

Rullyani Kuncoro Putri

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *