Dialog Senja

Teriknya matahari menemani sibuknya kota itu di hari-hari padat kerja seperti sekarang, ya Selasa tepatnya. Banyak kendaraan berlalu-lalang sehingga asap dan debu memenuhi jalanan siang ini. Terasa sesak, tidak ada celah untuk sekedar memperbaiki oksigen yang akan masuk ke dalam tubuh. Pikiran harus terus berjalan sejalan seirama dengan kendaraan di luaran sana. Tapi bagiku itu adalah hal yang biasa, tak perlu mengeluh karena memang begitu yang menjadi tontonan setiap hari. Di atas gedung bertingkat ini, ditemani sejuknya pendingin ruangan dan sebuah buku, aku selalu menyempatkan diri untuk sejenak tertegun melihat semuanya. Melihat kesibukan kota lalu sorenya tertawa mengingat semuanya. Ah, aku jadi merindukan sore jika membicarakannya. Pikiranku hanyut pada jalanan tepat dihadapanku, mood untuk menghabiskan lembaran buku yang aku genggam sedari tadi sudah hilang. Aku melirik jam dinding kayu yang terpasang disudut ruangan, “sebentar lagi,” bisikku lirih.
Aku mengemasi barang-barang lalu turun dari ruangan yang telah membantuku untuk menghindar dari gerahnya kota siang ini. Kemudian memutuskan untuk berkontribusi di jalanan padat polusi itu untuk pergi ke suatu tempat sebelum waktunya tiba, aku tidak ingin melewatkan. Walau dalam hati ada hal yang menarikku untuk tetap duduk di ruangan bertingkat itu untuk sekedar menumpahkan fokusku pada buku-buku atau keadaan dari jendela kaca besar yang memperlihatkan semuanya.

***
Dudukku sudah berpindah, di sudut pelataran yang tertata banyak kursi panjang menghadap ke arah yang sama. Aku memilih sudut, karena lagi-lagi dari sini semua hiruk pikuk kota terlihat, namun bedanya semuanya mereda. Tak ada polusi, yang kurasakan adalah hawa sejuk dari pepohonan di sekelilingku bukan lagi dari pendingin ruangan seperti tadi siang. Temanku bukan lagi buku yang tak kubuka-buka, tapi segelas Yoghurt strawberry dingin, donat gula dan alunan musik ’90 an yang terputar di cafe ini, cafe dengan 1001 cerita orang-orang yang memasukinya, termasuk aku. Entah ada apa tapi hari ini sangat manis bagiku terlepas dari kesibukan kota yang membuatku suntuk. Padahal aku tidak terbiasa memesan strawberry tapi hari ini, itu yang tiba-tiba ku pesan, mungkin hanya karena ingin mencoba hal yang berbeda dari segelas coffee latte hangat dan bolu gula jawa yang biasanya ku pesan.

Sendirian di sini bagiku adalah me time untuk pikiran dan perasaan yang selama sehari mengalami berbagai keadaan. Melihat matahari mulai tersenyum malu-malu karena akan berpisah sejenak dengan kita adalah hal yang membuatku lebih bisa banyak bersyukur. Untungnya hari ini cerah, semoga buruanku berhasil. Kamera sudah ditangan, semua sudah siap tapi tidak untuk perasaanku. Sedari siang rasanya aneh, rasanya seperti memori akan diri itu kembali hadir. Bukan rindu, bukan, aku tidak rindu lagi pada diri itu. Mungkin hanya karena beberapa saat yang lalu dia menghubungiku lewat layanan media sosial Instagram saja jadi aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Tapi rasanya aneh juga 5 tahun tidak berjumpa atau berkabar tapi tiba-tiba men-DM tanya judul buku yang pernah ku pinjam padanya saat masanya kami masih menjadi teman, kan aneh.

Jam ditanganku mulai menunjukkan waktu terbaik bagiku, segera ku siapkan kamera dan perasaan agar rasa-rasanya tak perlu ada yang disayangkan dari sebuah perpisahan. Namun, tiba-tiba kursi disebelahku ditarik kemudian duduklah orang disana. Aku tak menengok tapi yang ku tahu dia membawa segelas minuman dan sepiring makanan yang sama denganku. Dia juga membawa kamera, kemudian menaruhnya disudut meja disertai jam tangannya yang ia lepas kemudian ditaruhnya disamping kamera-nya. “Aneh.” Pikirku. Tapi tak ingin menggubris, aku tetap pada fokusku untuk menunggu sang fajar tenggelam lalu mengabadikannya.

“Kenapa DM ku nggak dibalas?”, suara itu terdengar cukup berat menandakan keseriusan, tapi aku bingung pertanyaan itu ditujukan ke siapa jadi aku memilih tetap diam.

“Aku tahu kamu denger, kenapa diam? lagian nggak ada yang lain selain kamu dan aku disini.” Seperti menjawab kebingunganku, dia lagi-lagi bersuara tapi aku memilih untuk tetap diam. Pikiran dan perasaanku sudah tidak sinkron lagi. Rasanya sore yang sangat jingga ini sudah gelap menghitam di pandanganku.

“Ternyata selera kita sama, ya walaupun aku juga nggak tahu kamu beneran suka atau hanya kebetulan.” Dia menggeser gelasnya dan mendekatkan kepada gelasku, aku tidak menjawab apapun. Aku lebih memilih kembali sadar dan melanjutkan fokusku pada langit indah didepanku. Perasaanku mulai terkontrol lagi.

“Sudah lama aku tidak kesini, dan sekalinya kesini aku ketemu kamu. Walaupun kamu sudah beda, lebih suka diam, nggak seperti jaman dulu. Kangen juga ternyata ya.” Damn! Hatiku membeku, tubuhku kaku, dia benar-benar dia. Aku tidak ingin diam tapi perasaan itu, memori itu, semuanya kembali terputar.

“Ternyata kamu masih suka senja, kalau kamu mau aku punya banyak foto senja dari berbagai daerah, aku…,”
“Sejak kapan tahu kalau aku suka senja?” Aku tak kuasa memotong pembicaraannya, tapi mataku belum juga sanggup melihatnya.
Aku merasakan dia tersenyum, “oh rupanya senja yang bikin kamu mau buka mulut. Aku tahu kamu suka senja sejak buku itu.” Gelak tawa terdengar dari keheningan pelataran itu. Aku masih diam, ternyata dia masih ingat ternyata dia tahu.

Dia mulai mengambil kamera dan melakukan hal yang sama denganku, “Sejak kapan kamu suka memotretnya? Yang aku tahu kamu lebih suka menikmatinya dengan mata telanjang saja.”
“Sejak aku tahu yang indah belum tentu dapat kita nikmati selamanya. Dia juga akan hilang, dia cuma sebentar. Kalau di potret kan bisa dinikmati setiap hari.” Aku berbicara lagi-lagi tanpa menolehnya. hatiku ingin tapi logikaku tidak.
“Kamu masih lucu ya ternyata, nggak beda. Ya kalau begitu kenapa kamu nggak memotret aku juga?” katanya sambil tetap terfokus pada kamera yang ia pegang.

Aku akhirnya menoleh, ia langsung menurunkan kameranya dan menoleh ke arahku. Senyumnya, matanya, wajahnya semuanya masih sama. Ini yang hilang, ini yang membuatku menjadi suka melihat jalanan, ini yang membuatku lebih ingin sendirian di sore hari. Semua masih sama. “Karena aku lebih suka ngelihat kamu pakai mata telanjang, kaya gini.” Kataku tak mengalihkan pandanganku padanya.
“Berapa lama kita nggak ketemu?” Katanya dengan senyum yang hangat, beda dengan dulu.
“Sejak wisuda SMA sampai sekarang.” Kataku menoleh.
“Lima tahun.” Dia kembali tertawa.
“Aku mau pulang.” Kataku sembari merapikan kamera dan barang lainnya.

“Aku nggak akan paksa kamu buat tinggal, ini memang dadakan. Semua serba kebetulan, memang ya semesta paling tahu caranya menyatukan,” dia terdiam, pandangannya masih kepadaku. Aku tak kuasa menoleh kearahnya, bingung akan apa yang mau dia sampaikan selanjutnya.
“lima tahun cukup untuk membolak-balikkan hati manusia.”
“Kamu nggak jelas.” Aku masih tetap sibuk dengan barang-barangku.
“Besok aku harus pulang, kalau mau aku tungu kamu di Ubud. Memang nggak besar tapi aku punya galeri senja namanya disana. Isinya potret senja dari daerah yang aku datengin. Oh iya satu lagi, kalau di DM itu di balas.”

“Ubud?” Aku menoleh, terkejut tapi masih bisa ku kendalikan.
“Aku memutuskan pindah kesana ikut bapak. Sejak aku kuliah, mama dan bapak pisah, mama pilih tinggal disini dan bapak nerusin berkarya di Ubud karena punya galeri seni disana, sayang kan kalau nggak dirawat.” Dia masih hangat kepadaku, tatapannya belum beralih.
Aku akhirnya tersenyum kepadanya memberi dia kekuatan, “buku itu dari aku. Yang kamu upload di instagram dan tanya siapa yang ngirim dan pengarangnya, itu bukuku, aku yang nulis.”

“Aku tahu, aku sudah baca. Makasih banyak, kamu hebat, waktu membuat kita terbang masing-masing.” Lagi –lagi dia tersenyum kemudian mengambil kameranya dan berdiri. Aku harus mendongak untuk melihatnya. “Katanya mau pulang? Hati-hati ya, maaf sampai sini dulu semoga kita bertemu lagi. Aku masih sama, kamu yang beda sekarang.” Senyumnya kembali ia keluarkan dan sebelum pergi dia mengacak rambutku lalu mencium keningku. Kemudian dia pergi, benar-benar pergi tapi tidak benar-benar hilang.
Aku terduduk lemas, impian itu terwujud. Kata-katanya dulu benar-benar nyata sekarang, “maaf ya aku belum bisa sekarang. Semoga kita bertemu lagi nanti, bawa karya masing-masing. Sukses ya.” Katanya lima tahun lalu di gerbang sekolah sebelum kami benar-benar berpisah.

 

 

Aulia Firdatin

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *