Dek… (Insyaa Allah) Aku Paham Kitabku

Beberapa hari yang lalu terjadi diskusi yang cukup menarik dengan pengurus LPM Motivasi di grup WhatsApp. Tema yang kami angkat cukup sensitif dan sedang hangat saat ini, yaitu gay marriage. Diskusi malam itu terjadi secara tidak sengaja, ketika salah seorang pengurus men-share sebuah link mengenai petisi penolakan legalisasi pernikahan sesama jenis.

Hampir sebagian besar yang terlibat dalam diskusi cenderung menolak gay marriage dengan berbagai alasan. Budaya Timur yang tidak cocok dengan pernikahan sejenis dan agama adalah salah satunya. Aku yang belakangan ini aktif mengikuti perkembangan isu gay marriage di SocMed pun juga mengemukaan argumentasiku. Salah satu hal yang mengelitik nalarku adalah “Legalisasi gay marriage, Mengapa harus ditolak?”. Menurut beberapa teman hal tersebut dikarenakan semua agama di Indonesia tidak ada yang memperbolehkan pernikahan sesama jenis (gay marriage). Salah satu peristiwa di Kitab Suci agama samawi yang bisa menjadi contoh bahwa Tuhan melarang pernikahan sesama jenis adalah kisah nabi Loth dan penduduk Sodom dan Gomora.

Seorang adik pengurus mencoba men-share salah satu ayat didalam Al-Qur’an dan memintaku untuk googling mengenai cerita tersebut didalam kitab suci agamaku (ketika itu ia menyebutnya Injil). Sebelumnya, perlu adanya pelurusan dalam hal ini. Kitab Injil adalah kitab agama Kristen (Protestan dan Katolik) hal tersebut bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Kitab Injil merupakan empat kitab dalam perjanjian baru yang menceritakan kisah Yesus Kristus. Sedangkan perjanjian baru dan perjanjian lama termasuk didalam kumpulan kitab-kitab yang disebut Alkitab.

Sebagai agama minoritas di Indonesia, pengetahuan tentang agama Kristen memang tidak banyak diketahui, apalagi adik pengurus tersebut adalah seorang muslim. Mengenai kesalahan yang sering terjadi, sikap bijak yang dapat diambil adalah dengan memakluminya. Yowes, rapopo dek.

Kembali pada topik gay marriage, sikapku yang cenderung mendukung bukan karena aku tidak pernah membuka atau membaca Alkitab, kitab suci agama Katolik, agama yang sampai saat ini aku yakini. Bukan juga, karena dua puluh tahun hidup sebagai seorang Katolik namun tidak memahami isi Alkitab ataupun ajaran-Nya. Sebaliknya, untuk mengatakan jika aku paham betul agamaku atau aku adalah seorang Katolik yang taat pun sepertinya juga terlalu naif.

Namun jika saja benar semua agama melarang pernikahan sejenis, lalu apa yang agamamu tawarkan untuk para gay? Jika saja gay dianggap sebagai dosa besar seperti yang terjadi di kisah Sodom dan Gomora, lantas apa mereka bukan manusia yang juga memiliki martabat? Jika saja menolak pernikahan sesama jenis agar keturunanmu tidak gay, lalu jika keturunanmu gay apa itu jadi alasanmu untuk membenci bahkan menolaknya?

Poin yang aku coba kritisi disini adalah petisi penolakannya, bukan juga berarti saya mendukung perilaku homoseksual. Petisi penolakan pernikahan sesama jenis, menurutku terlalu berlebihan. Bahkan legalisasi pernikahan tidak ada dalam tuntutan pergerakan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) di Indonesia. Respon tersebut terlalu melampaui batas. Alih-alih bisa menikah dengan sesama jenis, diakui eksistensinya sebagai warga negara Indonesia saja tidak.

Penolakan adalah akar dimana seseorang tidak diterima dalam suatu ranah masyarakat tertentu. Penolakan adalah akar dimana ketidakpedulian muncul. Menganggap yang ditolak lebih rendah dari yang menolak. Agama mana yang mengajarkan untuk merendahkan orang lain?

Yang ditakutkan dengan munculnya petisi penolakan pernikahan sesama jenis pada akhirnya akan muncul pula penolakan terhadap individu-individu didalamnya. Gay bagaimanapun uniknya, mereka tetaplah manusia yang memiliki martabat, yang dikisahkan sebagai “citra Allah”. Kecenderungan mencintai sesama jenis ada di semua manusia, bukankah agama mengajarkan untuk mengasihi sesamamu, manusia, seperti dirimu sendiri? Jika saja saudaramu atau kamu adalah gay, apa kamu akan memaksa menjadi heterogen demi agama? Bukankah tak ada paksaan dalam agama?

Menanggapi fenomena gay marriage muncul dua kubu. Kubu yang mendukung dan menolak. Para pendukung gay marriage cenderung mencoba untuk bersikap serta berpikir secara humanistik. Melihat LGBT (Lesbian, Gay, biseksual dan Transgender) sebagai persoalan kemanusiaan yang mendasar dan solidaritas adalah kuncinya. Sedangkan yang menolak kebanyakan ingin mencoba untuk taat pada ajaran agama.

Mengenai agama, dalam Katolik selain memiliki Alkitab juga terdapat otoritas Gereja sebagai sumber ajaran. Gereja Katolik dengan tegas menentang segala bentuk tindakan pernikahan yang tidak dilakukan secara alami. Termasuk pernikahan sesama jenis dan bayi tabung, bahkan masturbasi. Pernikahan adalah sebuah hal yang ilahi, yang benar-benar dianugrahi Allah. Sebagai seorang Katolik, aku pun tunduk dan menyakininya sebagai sebuah ajaran hidup. Namun, di sisi lain Gereja Katolik juga melarang segala tindakan kekerasan terhadap gay, termasuk kekerasan mental.

Petisi penolakan pernikahan sesama jenis hanya akan menggiring opini masyarakat untuk menolak kaum gay di Indonesia. Mereka tetap saja manusia, warga negara Indonesia. Mereka diwajibkan membayar pajak, suara mereka dihitung dalam PEMILU, mereka lahir serta hidup sebagai manusia Indonesia dan tak pantas ditolak!

 

Cecilia Santi Suksesi

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *