Dari Kuota 10GB, Beralih menjadi Pulsa

LPMMOTIVASI.COM- Kampus sudah melakukan negosiasi dengan beberapa provider yang mematok harga pembelian paket data 10GB lebih dari Rp. 50.000. Akan tetapi ada beberapa kendala sehingga pihak kampus mengambil kebijakan menyeragamkan pemberian pulsa Rp. 50.000 kepada mahasiswa.

Pemberian bantuan kuota 10GB yang dilakukan Universitas Sebelas Maret (UNS) kepada mahasiswa UNS menuai banyak kritikan. Pasalnya, terhitung mulai tanggal 9 April 2020 mahasiswa menerima bantuan berupa pulsa senilai Rp. 50.000. Sebelumnya UNS menyelenggarakan Kuliah Daring Bersama Rektorat yang membahas kebijakan kampus dalam kondisi pandemik Corona. Pada kuliah daring tersebut terbentuk kebijakan melalui Surat Edaran nomor: 21/UN27/SE/2020 bahwa kampus memberikan bantuan paket data dan/atau kurang lebih setara 10GB per mahasiswa. Hal ini membuat Livia (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris) sedikit kecewa ketika mengetahui bantuan yang masuk berupa pulsa senilai Rp. 50.000 bukan kuota 10GB. Ia juga menambahkan bahwa di beberapa provider mematok harga pembelian paket data 10GB lebih dari Rp. 50.000. Berangkat dari kekecewaan mahasiswa, pada tanggal 12 April lalu muncul #UNSAprilmop di media sosial Twitter dan Instagram. Arifin selaku presiden BEM UNS menyampaikan bahwa poin aksi media #UNSAprilmop bukan karena mahasiswa UNS serakah dan tidak bersyukur atas bantuan dari pihak kampus, akan tetapi mahasiswa mempertanyakan komunikasi publik pihak kampus yang kurang baik.

“Semisal kejadian di surat edaran tertera 10GB dan di lapangan malah mentransfer uang Rp. 50.000. Nah alasan dari kampus adalah pihak provider tidak bisa mengirin 10GB karena harga tiap 10GB berbeda-beda,” tambah Arifin (13/4).

Menanggapi kekecewaan mahasiswa, pada 13 April 2020 pihak kampus mengadakan rapat bersama ketua Ormawa se-UNS melalui media daring. Pada rapat tersebut, Sutanto selaku Staf Ahli Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Usaha UNS, menjelaskan bahwa pihak kampus sudah melakukan negosiasi dengan beberapa provider yang mematok harga pembelian paket data 10GB lebih dari Rp. 50.000. Akan tetapi, ada beberapa kendala sehingga pihak kampus mengambil kebijakan menyeragamkan pemberian pulsa Rp. 50.000 kepada mahasiswa.

“Kami datang ke Telkomsel untuk bernegosiasi yang hasilnya Telkomsel bersedia menurunkan harga paket data karena merupakan harga korporit karena pembelian dalam jumlah banyak. Tapi lagi-lagi variasinya sangat sulit dan prosesnya harus sampai ke Jakarta, sehingga tetap tidak bisa,” ujar Sutanto (13/4)

Rosid, mahasiswa Pendidikan Sejarah mengatakan bahwa bantuan pulsa senilai Rp. 50.000 yang diberikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kuliah daring selama sebulan. Akan tetapi, menurutnya pemberian bantuan pulsa tersebut sedikit membantu meringankan beban kuota internet seorang mahasiswa.

Kuncoro Diharjo, selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni menyampaikan dalam rapat bersama ketua Ormawa se-UNS, bahwa pihak kampus akan melakukan evaluasi terkait kebijakan bantuan pulsa ini.

“Coba dihitung benar dengan kuota 10 GB cukup, kita berjalan dulu saat ini lalu kemudian kita evaluasi langkah pertama ini. Dari semua Perguruan Tinggi (BLU), baru UNS yang sudah melangkah ke langkah seperti ini,” ujar Kuncoro (13/4).

Hal ini sejalan dengan langkah BEM untuk melakukan evaluasi dan apabila mahasiswa masih resah, akan diajukan kepada pihak kampus untuk evaluasi dan rekomendasi. Livia berharap UNS tetap mempertahankan perhatiannya kepada mahasiswa dalam berbagai aspek.

“Tapi juga memperbaiki sistem supaya lebih jelas dan cepat eksekusinya dan yang terpenting supaya pandemi ini cepat berlalu dan kita bisa kuliah seperti semula,” tambahnya (13/4).

Lulun_
Nanda_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *