Covid-19 Merajalela, Rasisme terhadap Asia meningkat?

Rasisme adalah masalah rasial yang sering kali kita jumpai bahkan mungkin terkadang tanpa kita sadari kita berperilaku rasis terhadap orang lain. Rasisme memiliki arti perbuatan, perkataan, tingkah laku, atau gestur tubuh yang membeda-bedakan orang lain berdasarkan rasnya. Rasisme dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Orang Asia yang meskipun merupakan penghuni benua terbesar di dunia, nyatanya tetap mendapat perilaku rasis dari etnis benua lain. Akhir-akhir ini kasus rasisme terhadap orang Asia kian meningkat dikarenakan menyebarnya virus Covid-19 dari China yang mampu melumpuhkan seluruh kegiatan hampir di tiap negara. Diskriminasi yang tak sepantasnya didapatkan oleh seseorang hanya dikarenakan ia memiliki darah Asia ini ternyata sudah lama terjadi dan dipicu oleh banyak faktor.

Perilaku tidak bijak ini muncul disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah superioritas individu manusia. Mereka merasa rasnya yang paling baik dan hebat sehingga menganggap rendah ras lain yang berbuntut pada timbulnya perilaku tercela, seperti mengejek, menghina, bahkan sampai melukai orang lain. Adapun istilah xenofobia yang memiliki arti kebencian terhadap orang atau hal asing yang ternyata juga dapat memicu timbulnya rasisme terhadap Asia. Banyak kasus di Amerika Serikat (AS) yang dapat membuktikan hal ini dikarenakan seringnya terjadi insiden di mana terdapat oknum yang menyerang fisik atau verbal orang yang berbicara dengan bahasa asing, dalam kasus ini bahasa yang digunakan di banyak negara Asia seperti, bahasa jepang, bahasa cina, bahasa korea, dll.

Sejatinya, rasisme terhadap orang Asia ini dapat kita telusuri jejaknya dalam sejarah dan sudah sangat sering terjadi. Mulai dari UU di AS tentang pengecualian Tionghoa atau keturunan China dalam exclusion ACT pada tahun 1882, invasi Spring 1988, keturunan Asia yang tidak diperbolehkan bersaksi di pengadilan melawan orang putih di California, AS pada tahun 1854, dan masih banyak lagi. Kasus rasisme terhadap Asia yang paling baru adalah insiden tertembaknya 4 warga Asia di Atlanta, AS pada tanggal 17 Maret lalu. Hal ini nyatanya dapat menimbulkan trauma bagi orang Asia-Amerika yang tinggal di sana.

Isu rasis ini menjadi lebih mengkhawatirkan dikarenakan wabah virus Covid-19. Orang-orang Asia dianggap seolah-olah penjahat paling kejam karena telah menimbulkan pandemi padahal hal ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan ras Asia. Bahkan bertambah parah ketika presiden AS pada saat itu, Donald Trump, menghubungkan virus Covid-19 dengan China dengan menyertakan tagar #chinesevirus pada cuitan akun twitternya. Trump seakan-akan menyalahkan China sepenuhnya atas kondisi dunia saat ini. Keadaan semakin memburuk ketika tagar tersebut juga digunakan oleh para pengikut Trump dan banyak orang lainnya. Dikutip dari USA Today (19/03), pengguna media sosial juga mengikutsertakan tagar anti-Asia daripada tagar Covid-19 pada cuitan mereka. Hal ini tentu memberi tekanan tersendiri bagi para orang Asia yang melihat cuitan rasis tersebut.

Cuitan rasis bernada candaan terkait Covid-19 di twitter bisa mendapatkan engagement atau interaksi yang besar. Dari situ, dapat kita lihat bahwa masih banyak orang di luar sana yang menormalisasi perilaku rasis dan sama sekali tidak menganggap ini adalah hal serius yang tak patut dijadikan bahan gurauan.

Leli_

Sumber gambar: Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *