Citayam Fashion Week: Bentuk Ekspresi atau Kurang Kerjaan?

Belakangan ini ramai menjadi perbincangan di media sosial tentang Citayam Fashion Week (CFW). Citayam Fashion Week merupakan adalah aksi peragaan busana di zebra cross kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Viralnya Citayam Fashion Week ini tidak lepas dari peran Jeje dan Roy yang bisa disebut sebagai artisnya yang mana trend ini berawal dari mereka yang diwawancara oleh seseorang dan videonya menjadi viral di media sosial.

Citayam Fashion Week ini digadang-gadang mirip dengan Paris Fashion Week, yang mana dalam kegiatannya anak muda akan saling beradu menampilkan pakaian yang menarik dan nyentrik. Gaya berpakaian anak muda di Citayam Fashion Week ini bagi sebagian orang terkesan aneh dan tidak cocok di Indonesia. Namun, hal tersebut justru menjadi salah satu daya tarik dari Citayam Fashion Week.

Daerah Dukuh Atas, Jakarta Pusat kini menjadi tempat nongkrong dan tempat mencari hiburan tidak hanya bagi anak muda kelas menengah, tetapi banyak juga artis dan pejabat yang datang kesana. Kebanyakan artis yang datang bertujuan membuat konten untuk channel Youtube mereka.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sebelumnya memiliki peran terbentuknya trend ini, karena saat pandemi anak muda dilarang membuat keramaian. Saat pandemi mulai mereda dan sudah diperbolehkan mengadakan keramaian, anak muda mencari cara yang murah untuk mendapat hiburan. Salah satunya adalah berkumpul dengan teman di ruang terbuka untuk sekadar mengopi dan mengobrol.

Viralnya Citayam Fashion Week menimbulkan berbagai pro dan kontra di masyarakat. Ada masyarakat yang menganggap kegiatan ini sebagai hal positif karena merupakan bentuk ekspresi remaja kelas ekonomi menengah ke bawah yang ingin menyalurkan hobi berpakaian dan bakatnya sebagai model.

Namun di balik banyaknya masyarakat yang memberi komentar positif dan apresiasi pada anak muda kelas menengah di Jakarta serta daerah penyangganya yang membuat trend Citayam Fashion Week, banyak juga masyarakat yang kontra. Banyak yang menganggap bahwa remaja-remaja ini kurang kerjaan dan lebih baik di rumah membantu orang tuanya daripada hanya nongkrong tidak jelas yang menyebabkan sampah berceceran di ruang terbuka.

Seorang warganet menyampaikan pendapatnya di media sosial “Miris… generasi muda kebanyakan gaya, lupa kalau negerinya sedang tidak baik baik saja”. Ada yang beranggapan bahwa orang berkomentar negatif tentang CFW adalah masyarakat ekonomi menengah ke atas, karena mereka kebanyakan mengungkapkan bahwa remaja yang nongkrong di kawasan Dukuh Atas merusak kondusifnya kawasan elite tersebut.

Jika kita telaah lagi rata-rata usia remaja yang kerap nongkrong di Citayam Fashion Week berusia 15 hingga 20 tahun, usia tersebut ialah usia sekolah menengah yang mana mereka masih mencari jati diri dan terbilang belum melek dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Usia mereka adalah usia rawan terjadi kenakalan remaja yang mengarah pada hal negatif, seperti menjadi geng motor, mabuk di jalan, hingga mengonsumsi narkoba. Citayam Fashion Week dianggap bisa menjadi pengalihan bagi para remaja yang sedang mencari jati diri dan berekspresi agar tidak terjebak pada hal hal negatif yang lebih merugikan diri mereka.

Tugas kita sebagai masyarakat dan generasi yang sudah lebih tua dan katanya juga paham akan kondisi negara adalah mengarahkan agar trend ini berkembang ke sisi yang positif. Jika sudah waktunya, mereka akan menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Kita juga harus lebih sadar bahwa ruang terbuka publik adalah hak milik semua masyarakat baik itu masyarakat dengan ekonomi kelas menengah ke bawah atau menengah ke atas. Jika memang remaja di sana membuat kesalahan kita seharusnya mengingatkan dan menegur dengan baik bukan malah menghina apa yang mereka lakukan dengan cara yang kasar.

Rizal Dwi_

Sumber Foto: Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.