Cerita Perantauan

duduk di tepi  jalan yang kala itu hari telah gelap

banyak yang bertanya,menangis,geram,terdiam

segala raut wajah semua ada pada malam itu

ramainya sesekali memunculkan kata ‘’Cepppp”

hingga datang bus terakhir  menawar jasanya

helaan nafas orang-orang  sambil membawa tas-tas besar

menambah ragamnya keadaan saat itu

penuhnya panjang bus

tersudut laki-laki berbaju putih terdiam dengan rokoknya

ia menoleh,menepuk pundak seakan akrab

dia memperkenalkan dengan dialek khas tegal

kuhanya membalas senyum setengah hati

Hidup ini keras ujarnya,jangan kira aku berduit

Jakarta hanya formalitas baginya

Kehidupannya mencekik leher katanya

Dari golongan seperti nya,tak berilmu,kurang ajar

Karena bekas narapidana yang  keblinger

Dia juga berpikir mengapa begini?

Dengan menceritakan sosok kota itu

Dia semakin jauh menceritakan hidupnya

Kumerasakan pedihnya hidup ujarnya

Tidur di jalanan,kolong jembatan  pernah dienyamnya

Itu karena ketidaksiapan menerima hidup

Helaan nafas tabah keluar dari mulutnya

Memikirkan sewa mobil butut dan kontrakan

Dengn mengusap tangannya ke wajah

Aku merubah raut wajahku

Kubalik menepuk pundak laki-laki itu

Aku hanya berkata seadanya yang mungkin dapat menyegarknnya

Menit demi menit keluhan menyelimuti dirinya

Perempatan lampu merah desa sudah terlihat

Yang mengharuskan semua isi bus kosong.

Dia hanya berpesan padaku

“Jangan sampai kamu kesana “

“kamu boleh kesana ketika kamu sudah cerdas”

 

_ Nurman

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *