Bumi Manusia: Karena di bumi, manusia lah bentuk segala rupa

Judul                           : Bumi Manusia

Penulis                         : Pramoedya Ananta Toer

Tahun  Rilis                 : 1980, 

Jumlah Halaman       : 535

Penerbit                       : Lentera Dipantara

ISBN                           : 979-97312-3-2

            Minke. Jujur ketika membacanya kadang aku tidak terlalu suka dengannya. Menurutku, dia terlalu fokus dengan kesopanan pribumi terhadap orang tua. Aku pikir begitu. Minke begitu menghormati Nyai Ontosoroh. Seakan setiap kalimatnya adalah perintah. Kewibawaan gundik Tuan Mellema ini melunakkan pikiran kritis Minke sebagai pribumi siswa HBS Surabaya. Kecantikan Annelise juga menghipnotis pandangan Minke tentang anak seorang Nyai, sebutan bagi wanita yang disetubuhi orang Belanda namun bukanlah Mevrouw (Nyonya), aku memahami kalau sebutan itu digunakan untuk seorang istri sah.

            Kedatangan Minke yang diajak oleh Robert Suurhof menjadi awal kehidupan Minke sebenarnya. Gelar siswa H.B.S yang melekat seakan hanya sebuah teori belaka yang mendasari cara yang Minke gunakan dalam menjalani hidupnya setelah mengunjungi Boerderij Buitenzorg. Sikap anggun Annelise dalam balutan wajah cantiknya membuat Minke hanyut dengan obrolan ringan yang mengantarkannya untuk mendapat kepercayaan penuh dan kasih sayang dari Nyai, hingga ia pun menyebutnya sama dengan yang Annelise lakukan, yaitu Mama. Namun, sang kakak, Robert Mellema menaruh tatapan tajam yang dapat dilihat dengan jelas memancarkan aura kebencian pada Minke. Minke sangat menyadari itu.

            Minke dan Annelise saling mencintai. Tak hanya karena keayuan Annelise yang bidadari, tetapi juga karena ketelatenannya dalam membantu Mama mengelola segala usaha milik Tuan Herman Mellema yang kini sepenuhnya diambil oleh Nyai Ontosoroh. Ya, Tuan Mellema sudah berubah menjadi Belanda yang menjijikkan. Itulah anggapan Nyai terhadap lakinya itu. Sehingga, seorang pribumi sepertinya yang dijual oleh sang ayah ketika masih berumur belasan kepada seorang Belanda yang dulunya berbadan tambun dan berwibawa, harus autodidak menjelma menjadi Nyai yang intelek dan telaten dalam mengelola usaha Tuannya itu. Ia juga harus selalu membayar ke rekening Ah Tjong, seorang pemilik rumah plesiran- rumah yang berisi wanita-wanita pelacur yang siap melayani laki manapun yang membayar kepada si pemilik. Menjijikan! Hanya itu yang ada di benak dan pikiran Nyai Ontosoroh terlebih ketika melihat tubuh dan wajah memuakkan dari orang yang telah membelinya itu.

            Tuannya pun harus mati di sana, di plesiran milik Ah Tjong. Robert Mellema yang memiliki sifat tak jauh berbeda dari Tuan Herman Mellema pun acuh tak acuh. Baginya, yang terpenting adalah fakta bahwa ia orang Belanda. Kematian Tuan Mellema juga membawa perubahan bagi kehidupan Nyai. Anak perempuan kesayangannya harus kembali ke negeri Tuannya. Meninggalkan Boerderij Buitenzorg dan tentu, meninggalkannya dan Minke. Annelise pergi dengan hati yang sepenuhnya tak utuh, begitu pun hati Minke, yang juga tak ringan melepasnya. Bagi Nyai, setidaknya ia telah melawan, dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

            Alur cerita yang sangat apik dan nyaman untuk diselesaikan dalam sekali duduk. Novel yang cukup tebal ini, tidak terasa ketika membacanya. Aku seakan larut dalam cerita yang tampilkan. Sosok Minke yang sederhana, pintar, dan romantis. Tentu, ia adalah gambaran pemuda pribumi yang cerdas, ditambah lagi dia masih keturunan bangsawan. Annelise dengan keanggunan, cantik, dan tentu, pintar. Paduan ciamik pasangan muda, seorang pribumi, dan percampuran pribumi-Belanda dari Tuan Mellema dan seorang Nyai. Bagi yang awam dengan sejarah, novel ini cukup ringan untuk diambil maknanya. Meski dengan bahasa yang tak bisa aku cerna begitu saja dengan teknik membaca cepat, tetapi dengan perlahan, tak terasa aku telah hampir menyelesaikannya. Alur yang mengalun runtut, serta konflik yang saling bersahut seakan-akan menahanku untuk menutup novel ini dan melanjutkannya di lain waktu.

            Entah mengapa, hal yang aku petik dan masih ku ingat dari novel ini adalah sikap keras Nyai terhadap dirinya dan sekitar. Nyai Ontosoroh adalah sebuah role model perempuan Indonesia yang memiliki prinsip dan keteguhan. Ia mungkin bisa menerima dan mengikuti nasib yang diberikan padanya. Namun, ia memiliki sumpah yang akan selalu ia pegang kepada orang-orang yang telah melemparnya ke kehidupannya kini. Ia pegang prinsip hidupnya, dan ia manfaatkan hal buruk yang menimpanya menjadi hal yang pantas mengangkat derajatnya sebagai seorang “gundik”.

            Potret yang apik jika kita jadikan pandangan terhadap perempuan masa kini, bahwa seorang perempuan harus menjaga dan memperjuangkan dirinya dengan dirinya sendiri- tidak hanya bergantung dengan hal yang diberikan padanya, tetapi mampu mengolah, mengembangkan, bahkan bisa memunculkan inovasi atas dirinya sendiri. Perempuan harus memiliki prinsip yang akan selalu ia pegang meski segala badai menerjangnya dengan kejam. Meski iming-iming mengejarnya dengan rutin, ada harga diri dan kehormatan yang harus tetap dijaga seorang kaum hawa untuk memantapkan kedudukannya sebagai manusia seutuhnya. Apa harga diri dan kehormatan itu? Setiap dari perempuan lah yang berhak menjawabnya.

_Elsa

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *