Bukan Gagal, Hanya Jalannya Saja yang Tidak Tepat

Mentari menatap layar laptopnya sekali lagi. Bahunya meluruh, wajahnya lesu, dan pandangannya penuh keputusasaan. Dia kembali bergelut dengan kegagalan. Sekali lagi, dia mengecewakan dirinya sendiri dan ibunya. Mungkin juga mengecewakan ayahnya yang tengah tidur di surga. Apa yang harus Mentari katakan? Berkali-kali dia meyakinkan, tetapi akhirnya masih belum berbuah keberhasilan.

“Maaf.” Hanya itu yang mampu Mentari ucapkan dengan pandangan yang turun, tak berani menatap wajah ibunya. Dia tak sanggup melihat ibunya yang memaksakan senyum sambil terus berkata tidak apa-apa.

“Tidak apa-apa, Ri.”
“Mengapa ibu tidak memarahiku? Mengapa terus mengatakan itu padahal aku sudah banyak gagal?”

“Karena Mentari adalah manusia, dan manusia hidup untuk memperjuangkan mimpinya. Mereka hidup untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ibu bangga, Mentari memperjuangkan semuanya dengan cara yang benar, kegagalan dan keberhasilan selalu berjalan beriringan, Ri. Jadi, bukankah tidak ada alasan Ibu untuk marah?” Mentari menegakkan wajahnya menatap kedua bola mata ibunya yang teduh. Dia merasakan ketenangan ketika berada di pelukan ibunya.

Mentari tengah berada di sebuah minimarket untuk membeli sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Hari ini dia ada wawancara mengenai naskah novelnya yang baru. Penolakan naskah kemarin tidak menjadi penghalang Mentari untuk terus menulis. Entah mengapa pihak perusahaan meminta untuk bertemu dengan Mentari tanpa menjawab apakah naskah Mentari yang telah dikirimkan melalui email itu diterima atau ditolak. Ketika sampai, dia langsung disambut oleh perempuan yang terlihat sedikit lebih dewasa darinya dan sangat cantik. Dia mengarahkan Mentari ke sebuah ruangan dan di sana sudah ada laki-laki yang meminta Mentari untuk datang. Dia tampak berwibawa dan masih muda.

“Silakan duduk.”
“Terima kasih, Pak.”

“Perkenalkan nama saya Rio, pemilik perusahaan sekaligus penanggungjawab mengenai naskah mana saja yang diterima. Saya sudah beberapa kali membaca tulisan Anda, dan jika saya boleh jujur, tulisan Anda selalu membosankan dan ending-nya sangat mudah untuk ditebak, konfliknya tidak menarik, judulnya pun sama.” Mentari mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Dia menunduk dan tampak meremas roknya, menahan agar tidak menangis.

“Namun, saya tersentuh, Anda adalah orang gigih dan saya sepertinya mempercayai Anda.”
“J…jadi naskah saya…”
“Bukan, bukan itu maksud saya. Saya tetap tidak bisa menerima naskah Anda, tetapi saya ingin menawari Anda posisi editor di perusahaan ini.”
“Maksud bapak?”

“Saya melihat tulisan Anda memang kurang menarik, namun tata bahasa yang Anda gunakan sangat baik. Tidak ada kesalahan satupun dan hal itu membuat saya yakin jika Anda adalah orang yang teliti. Anda akan menerima naskah yang telah diterima oleh perusahaan kami dan mengeditnya dengan baik untuk kemudian diterbitkan. Silakan dipertimbangkan. Kami tunggu kabar baiknya.”

Semakin lama, semakin tidak mengerti dengan cara semesta bekerja. Semesta membuktikan jika memang manusia itu seberapa sih? Manusia hanya bisa merencanakan, sedang Tuhan yang menentukan. Hal yang begitu amat sangat diperjuangkan nyatanya sulit untuk diwujudkan. Sedangkan sesuatu yang sama sekali tidak diimpikan, datang sendiri tanpa permintaan. Memang, Mentari terus mengalami kegagalan dan penolakan dalam penulisan naskahnya. Tetapi hal itu bukan menjadikan hidup Mentari berhenti, karena memang Mentari tidak gagal, hanya jalannya untuk berhasil saja yang tidak tepat.

“Ri, pernah tidak kamu berpikir jika kamu itu tidak gagal, kamu hanya berada di jalan yang tidak tepat.”
“Maksud ibu?”
“Kamu lihat ayah, dia anak yang sangat pintar di sekolahnya, selalu menjadi juara kelas. Kamu tahu cita-cita ayahmu dulu?”
“Guru.” Jawab Mentari karena ayahnya menghabiskan waktu untuk mengajar.
“Dokter.” Jawab ibunya membuat Mentari sedikit terkejut.“Ayahmu sangat ingin menjadi dokter. Dia mengikuti tes di berbagai perguruan tinggi negeri. Namun sayangnya ayah tidak diterima. Semua orang kaget, anak sepintar ayahmu tidak lolos tes kedokteran. Tapi ayahmu pantang menyerah sepertimu, Ri. Ayahmu masih terus memperjuangkan kedokteran, hingga akhirnya ayahmu diterima namun di perguruan tinggi swasta. Ayahmu tidak terlalu senang karena tentu biaya kuliahnya akan mahal.”

“Lalu mengapa ayah bisa menjadi guru?”

“Selain tes kedokteran, ayahmu juga tes keguruan atas permintaan kakekmu. Ayahmu diterima di keguruan tetapi masih tetap memperjuangkan kedokteran karena mimpinya adalah menjadi dokter. Ternyata ayahmu saat itu tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih memikirkan orang tuanya, karena biaya kedokteran di perguruan tinggi swasta mahal, jadilah ayah memilih kuliah di fakultas keguruan. Hingga kini ayahmu menjadi guru dan sekarang mengajar adalah hobinya, Ri. Kamu sekarang lihat kan betapa senangnya ayah mengajar bahkan dulu mimpinya bukanlah menjadi seorang guru.”

“Jadi?”
“Jadi, ayahmu tidak sepenuhnya gagal, Ri. Dia hanya gagal menjadi dokter, tetapi dia berhasil menjadi guru.”

Mentari tersenyum mendengar cerita tentang ayahnya. Hal itu semakin membuat Mentari bangga terhadap ayahnya. Diambilnya laptop yang tergeletak di atas nakas, lalu membuka email yang berisi percakapan dengan Pak Rio mengenai tawarannya. Mentari sudah tahu jawabannya, dan dia sudah sangat yakin dengan keputusannya.

“Baik pak, saya terima tawaran bapak. Mohon kerja samanya.”

Sudah satu bulan Mentari bekerja sebagai editor di perusahaan penerbitan buku. Dia menjalaninya dengan sangat enjoy dan tidak merasa terbebani ketika pekerjaan menumpuk. Membaca puluhan naskah dan mengeditnya satu persatu sangat menyenangkan bagi Mentari. Dia jadi tahu banyak penulis-penulis yang berkompeten dan sangat kreatif dalam menulis. Mentari selalu fokus dalam melakukan pekerjaannya sambil menikmati setiap cerita-cerita yang dituliskan.

“Ada yang bisa dibantu mas?” tanya Mentari kepada seorang laki-laki yang menghampirinya di kantin perusahaan dan memberikan satu cup es teh di mejanya.
“Saya mau tanya, tadi mbak ada lihat HP jatuh tidak di sekitar sini?”
“Enggak ada tuh mas, memangnya kenapa?”
“Tadi HP saya tuh saya kantongin mbak, tapi ini kok saya cari nggak ada ya?”
“Beneran di kantong? Jangan-jangan memang tidak bawa HP.”
“Beneran kok mbak saya ingat betul. Ehm, boleh minta tolong enggak mbak?”
“Minta tolong apa mas?”
“Itu pinjam HPnya buat telefon HP saya. Siapa tahu memang terjatuh di sekitar sini mbak.”

“Iya boleh.” Mentari mengambil ponselnya yang dia taruh di atas meja, lalu menyodorkannya ke laki-laki yang mengaku kehilangan ponsel tersebut. Laki-laki itu meraihnya dan mengetikkan angka-angka lalu memencet tombol panggil. Namun Mentari terkejut setelah laki-laki itu mengeluarkan ponsel dari kantongnya. Ponsel itu berdering dan itu menandakan kalau memang ponsel itu miliknya. Lalu kenapa dia bilang hilang sedangkan ponsel itu ada di saku celananya?

“Terima kasih ya mbak nomornya. Jangan lupa nomorku disimpan balik. Oh iya, nama saya Bagas, jangan lupa di-save. Mentari hanya bisa menganga sambil memandangi punggung laki-laki itu yang semakin menjauh. Aneh.

Kini Mentari sadar, jika memang berhenti memperjuangkan sesuatu itu bukan berarti menyerah, tapi berhenti untuk memikirkan sesuatu yang membuat diri kita stuck dengan satu pilihan. Kita harus mencoba untuk membuka peluang keberhasilan yang lain, karena bukan hanya rezeki yang bisa datang kapan saja, tetapi juga peluang keberhasilan. Mentari merasa senang dengan pekerjaannya saat ini. Dia sudah memiliki penghasilan sendiri, dan hidup bahagia dengan seorang bayi lucu dan laki-laki aneh bernama Bagas yang pura-pura kehilangan ponsel untuk meminta nomornya.

 

Nanda_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *