Bidikmisi Mendidik Mahasiswa Malas

“Idenya adalah membuat orang diberi kesempatan yang sama. Jangan hanya orang kaya dan pintar saja yang diberi akses. Jangan sampai yang miskin tambah miskin karena anaknya tidak berpendidikan. Karena dia miskin sehingga tidak ada mobilisasi vertikal dari keluarga miskin, padahal mungkin saja anaknya berbakat. Kuncinya adalah pendidikan.” (Chairul Tanjung).

Program beasiswa bidikmisi yang diselenggarakan pemerintah ini memang terbilang sangat menggiurkan. Dengan pembebasan biaya kuliah, kemudian pemberian dana kebutuhan hidup sebesar Rp 600.000 per bulan, serta masih ditambah dengan uang transport yang diberikan per semester, pemerintah berusaha agar mahasiswa dapat kuliah sebaik-baiknya tanpa harus khawatir memikirkan biaya kuliah. Bagi mahasiswa yang mendapatkannya, sudah sepantasnya bersyukur dan menjadi semakin bersemangat mengukir prestasi karena di luar sana masih banyak generasi muda yang ingin berkuliah namun terhambat oleh keterbatasan biaya.

Namun, banyak kasus yang muncul terkait dengan program beasiswa bidik misi ini. Selain carut marut kasus pemerintah yang kerap salah membidik penerima bidik misi, terdapat pula kasus penyalahgunaan dana bidikmisi oleh para penerima bidikmisi.

Merupakan suatu kasus yang jamak bila melihat para mahasiswa bidikmisi tersebut justru hidup berfoya-foya menggunakan uang bidikmisi. Mereka merasa bila uang tersebut adalah miliknya sehingga mereka merasa berhak menggunakan uang tersebut sebebas mereka. Padahal, sumber dana bidikmisi adalah dari rakyat, dari pungutan-pungutan pajak masyarakat luas. Uang tersebut diamanahkan oleh rakyat untuk pembangunan pendidikan dan diharapkan mampu membangun generasi penerus bangsa yang lebih baik.

Sudut pandang yang salah dalam memahami arti kegunaan uang bidikmisi juga berakibat pada lunturnya semangat berjuang mahasiswa. Mahasiswa-mahasiswa penerima bidik misi tersebut merasa bahwa mereka sudah tidak membebani orang tua, karena kuliah mereka gratis, bahkan mendapat uang saku dari pemerintah pula. Sehingga mereka tidak melihat pengorbanan orang tua yang susah payah mencari uang seperti yang dialami mahasiswa lainnya. Hal tersebut membuat para mahasiswa ini justru berlaku santai-santai saja terhadap kuliah mereka. IP standar, prestasi tidak ada, yang penting mengerjakan tugas, dan IP masih di atas 3,00. Tanpa ada semangat untuk menaikkan IP atau menorehkan prestasi akademis seperti mengikuti kompetisi-kompetisi. Hingga pada akhirnya, sudut pandang yang salah dalam memahami arti kegunaan uang bidikmisi tersebut justru mendidik mereka menjadi malas, tergantung dan tidak mandiri.

Memang tidak semua mahasiswa bidik misi yang berlaku demikian. Namun tentu kita tidak bisa menutup mata dan berpura-pura tidak mengetahui hal tersebut. Pemerintah sudah memiliki inisiatif baik dengan mengadakan program beasiswa semacam ini. Lantas sudah sepatutnya terdapat kerja sama dari pihak universitas serta mahasiswa untuk memantau serta menggunakan uang tersebut secara bijak.

Pemantauan dari pihak universitas harus ditindak tegas karena selama ini tidak pernah ada perintah dari pihak universitas kepada para mahasiswa untuk menyerahkan rincian penggunaan dana bidikmisi. Pemantauan terhadap prestasi juga harus dipertegas karena dalam Surat Kontrak Mahasiswa Penerima Bidikmisi tertera syarat bahwa mahasiswa harus aktif dalam kegiatan organisasi dan mahasiswa juga harus membuat minimal satu Proposal Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Sementara berdasarkan fakta di lapangan, banyak mahasiswa bidikmisi yang tidak mengikuti kegiatan organisasi sama sekali serta tidak membuat PKM. Kurangnya pengawasan tersebut membuat para mahasiswa bidikmisi semakin merasa bahwa mereka mendapat uang bidikmisi tanpa dibarengi amanah yang seharusnya mereka emban.

Merupakan suatu kewajiban bagi mahasiswa untuk dapat menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mana berisi Penelitian, Pendidikan, serta Pengabdian Masyarakat. Kalau dari pribadi masing-masing individu saja salah menafsirkan arti pemberian dana beasiswa tersebut, maka perguruan tinggi nantinya hanya akan memproduksi sekelompok manusia yang tidak mandiri dan malas berjuang.

Aristi Dian Pradana

Reporter AK-47

LPM Motivasi 2014-2015

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *