Antara Ada dan Tiada

Penempatan diri manusia pada posisinya sebagai dirinya sendiri dan meletakkan keseluruhan tanggung jawab hidupnya sepenuhnya di pundak manusia itu sendiri. Sudah menjadi jalan diri sendiri sepenuhnya dalam mengatur dan bertanggung jawab pada keputusan-keputusan yang kalian ambil, memang dalam pengambilan keputusan kita lebih terarah pada subjektivitas individu terhadap pokok hal yang disoroti. Keputusan yang dipilih semata-mata tidak hanya asal asalan saja, juga mempertimbangkan keberadaaan hal tersebut juga esensinya, pun tidak dapat kita pungkiri, kita sering juga memperhatikan keadaan sekitar yang akan membuat banyak pertanyaan melayang pada otak yang membuat resah, gundah dan gulana. Karena kita pasti memikirkan hal selanjutnya yang akan terjadi dan itu tentu menjadi pertimbangan bagi kita, walau setiap orang menggunakan subjektivitasnya dalam pemenuhan kebutuhan hidup, mereka akan tetap memperhatikan sekelilingnya dalam pengambilan keputusan sebagai patokan mereka atas hal tersebut agar tidak terjadi kekeliruan.

Seseorang tidak akan menjadi “apa-apa” sampai ia menjadikan hidupnya “apa-apa”, banyak manusia yang bingung dengan jalan hidup mereka sendiri, menyalahkan orang lain, menyudutkan orang lain, beberapa tingkah laku seperti itu digunakan sebagai alat untuk menampilkan tujuan dirinya namun kebanyakan orang hanya berfikir sampai situ. Jangan biarkan menjadikan orang lain sebagai alat, tetapi selalu jadikan mereka sebagai tujuan. Manusia bukan apa-apa selain apa yang bisa ia buat dari dirinya sendiri. Seperti halnya manusia yang hidup di bumi ini, seolah mereka hanya tersudut pada essensi-essensi yang hendak dicapai selama mereka hidup tanpa menelisik lebih keberadaan mereka di bumi. Untuk apa mereka hidup? Bagaimana mereka bisa diciptakan dan hidup sampai sekarang? Senyatanya, manusia ada terlebih dahulu, setelah itu mereka baru dapat menentukan keberlanjutan hidupnya, cita-cita, tujuan, hingga pencapaian-pencapaian yang menjadi hal yang harus diperjuangkan demi eksistensi mereka.

Menyerah bukanlah jalan yang baik dalam menyelesaikan sebuah permasalahan karena hal itu memperlihatkan kerendahan dirinya. Manusia sebagaimana posisinya menjalankan hidup dan bertanggung jawab atas segala usaha-usaha dalam keputusannya. Namun terkadang mereka hanya berfikir sempit seolah tidak ada jalan lain untuk pemenuhan kebutuhan hidup lainnya guna tercapainya keseimbangan antara elemen hidup satu dengan yang lainnya.

Nasib manusia terletak ditangan manusia itu sendiri. Pemikiran ini tidak menghalang halangi manusia untuk bebas dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Malah dikatakan bahwa tidak ada harapan kecuali di dalam apa yang manusia lakukan. Semua keputusan baik dan buruk itu akan terlihat bila hal yang hendak dicapai disertai dengan kontribusi-kontribusi dari diri kita sendiri untuk membangun kesadaran individu lainnya. Manusia tidak lain dan tidak bukan adalah keseluruhan rangkaian-rangkaian usaha-usaha yang ia lakukan, sehingga siapa dirinya adalah keseluruhan, organisasi, rangkaian rangkaian hubungan usaha-usaha yang ia lakukan.

 

 

Nadila Nisa Al Umami

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *