Aksi Mahasiswa UNS Segel Kampus

LPMMOTIVASI.COM- Mahasiswa dengan mengenakan almamater biru muda memenuhi Boulevard UNS dengan membentangkan tulisan “UNS disegel Mahasiswa” sebagai bentuk Penuntutan Dasasila Maklumat Mahasiswa UNS.

Senin, 20 Juli 2020, Aliansi UNS Bergerak mengadakan aksi “Pagelaran Universitas Nggawe Susah” di Boulevard Universitas Sebelas Maret (UNS). Aksi ini diikuti oleh mahasiswa yang tergabung dalam aliansi UNS bergerak, yaitu mahasiswa yang tergabung dalam lembaga, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), himpunan mahasiwa, dan mahasiswa umum yang bergabung secara individu. Selain mengadakan aksi di kampus, mahasiswa juga ramai di pelataran media sosial dengan tagar #UniversitasNggaweSusah hingga menjadi trending topic di Twitter. Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut 10 tuntutan yang tercantum dalam Dasasila Maklumat Mahasiswa UNS. Tuntutan tersebut mengenai jaminan bahwa tidak ada mahasiswa yang mengalami putus kuliah atau cuti sementara akibat terkendala biaya pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) di masa pandemik Covid- 19, hingga meminta UNS untuk menerapkan kembali kebijakan komponen biaya jaket almameter bagi mahasiswa baru sudah include UKT karena dinilai melanggar Permenristekdikti Nomor 39 tahun 2017 dan Peraturan Presiden Nomor 16 tahun 2018.

Muhammad Zaki Zamani, selaku Humas menjelaskan bahwa aksi tersebut dilakukan kerena mereka ingin mengadakan diskusi terbuka dengan Rektor UNS, Jamal Wiwoho. “Dari ajuan audiensi, kita sudah mengajukan tiga kali. Tapi dipenuhinnya itu dengan undangan workshop, kemudian undangan hanya perwakilan 1-2 mahasiswa. Padahal yang kita inginkan tidak seperti itu, yang kita inginkan semua mahasiswa yang merasakan keresahan ini bisa mendengar dari apa yang dikatakan Prof Jamal. Karena ajuan tiga kali tidak digubris, ya akhirnya kita turun ke jalan. Tujuannya ya tetap pengin ketemu Prof Jamal, bisa berdialog bersama, didengar oleh teman-teman yang hadir di sini menyampaikan rekomendasi dari kajian yang sudah kita buat,” terang Zaki (20/07).

Ia mengharapkan adanya kuliah daring bersama Rektor seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. “Ketika kuliah daring bareng pak Rektor bisa disaksikan semua mahasiswa umum melalui live youtube. Nah kita sebenarnya ingin mengobrol lagi dengan pak Rektor seperti itu. Itukan saat masalah mengenai kuota ya. Seiring berjalannya waktu, isu yang berkembang kan semakin banyak. Seperti UKT di tengah pandemik yang tidak turun, kemudian almamater mahasiswa baru yang ternyata dikeluarkan dari CSA, lalu ada juga SPI yang terbaru itu ngga ada yang 0 rupiah. Padahal pimpinan kampus juga menyadari bahwa itu terdampak pada ekonomi orang tua dan sebagainya. Tetapi, pada kenyataanya, kebijakan yang mereka keluarkan malah SPI nggak ada 0 rupiah. Jadi sangat kontra dengan apa yang mereka sampaikan,” tambah Zaki.

Alberth Ridwan Darmawan, selaku ketua HMP Ganesha mengungkapkan alasannya mengikuti aksi ini. “Kita kan sama-sama berjuang. Kita sama-sama murni secara mahasiswa. Aksi ini sudah dilakukan dengan berbagai audiensi, berbagai kajian, dan aksi di sini murni mahasiswa. Alasan saya ikut aksi ini juga untuk ikut berjuang bersama teman-teman, bukan hanya menikmati. Namun, juga ikut bagaimana susah payahnya teman-teman berjuang panas-panas,” ungkapnya. Ia juga menjelaskan bahwa koordinasi aksi ini telah dilakukan sejak bulan lalu secara terus menerus. Koordinasi masa terakhir dilakukan pada 19 Juli di gedung porsima.

Sekitar pukul 16.40 WIB, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR 3), Kuncoro Diharjo dan jajarannya menemui mahasiswa yang melakukan aksi. Mahasiswa menyampaikan aspirasi mereka terkait 10 tuntutan mahasiswa di hadapan WR 3 dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WD 3) fakultas yang hadir secara langsung. Kuncoro dalam menanggapi isi maklumat tersebut berpesan, bahwa jangan sampai ada mahasiswa yang berhenti karena tidak bisa membayar UKT. “Bagi yang memang benar-benar tidak mampu bayar, sudah anaknya suruh ngadep saya. Saya yang menyelesaikan. Betul saya tanggung jawab. Pokoknya saya pesan, tidak boleh ada mahasiswa keluar karena alasan tidak bisa membayar UKT. Tolong justru ini saya pesankan kepada Anda semua,” ungkapnya.

Sejalan dengan WR 3, Djono, selaku WD 3 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) juga memberikan tanggapan mengenai keringanan UKT di lingkup FKIP pada masa pandemik. “FKIP ini untuk pembebasan usulannya ada 2038, artinya paling banyak. Jadi, yang mengajukan pembebasan UKT di semester 8 ke atas itu ada 2038. Kemudian yang covid 696, yang reguler kemarin ada 100-an, sudah difinalisasi, artinya semua total sudah 2932 untuk FKIP. Jadi cukup besar untuk keringanan UKT ini. Yang kami lakukan seperti kasus Prof Kuncoro tadi ada beberapa mahasiswa ada yang tidak bisa membayar, bahkan uang makan kami upayakan. Jadi kami sangat care untuk itu. Diharapkan tidak ada mahasiswa yang keluar hanya karena tidak bisa membayar UKT. Jadi, dosen-dosen pun juga turut iuran untuk mahasiswa yang benar-benar sangat membutuhkan,” terang Djono.

Selain itu, WD 3 Fakultas Hukum, Isharyanto, menyampaikan bahwa aspirasi tersebut dapat disampaikan melalaui fakultas masing-masing. “Soal cara kita bisa berdebat, tetapi saya mengharapkan juga kalau boleh usul masalah-masalah tadi jabarannya bisa ada yang disampaikan lewat aspirasi di tingkat fakultas, sehingga tidak semua harus sampai ke universitas. Saya kira misalnya di fakultas saya, kami terbuka dan hampir tiap dua minggu sekali kami mengadakan ajang jumpa civitas dan juga kami tidak menolak kalau harus dialog dengan dekanat. Saya kira semua fakultas juga terbuka seperti itu,” ungkapnya.

 

Kamila_

Rudy_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *