Akhirnya Waktu Mengajarkan Kita Hal Berharga

Kokok ayam di pagi hari mengiringiku datang ke rumah Rara, sahabatku. Ini adalah pertama kalinya aku ke rumahnya setelah lama kita tidak bicara. Ya, aku berkonflik dengannya dua bulan yang lalu. Kesalahan yang dilakukan Rara pada waktu itu memang membuatku kecewa. Tetapi sebenarnya egokulah yang membuat persahabatan kita renggang bahkan kita seperti orang asing yang tidak pernah mengenal satu sama lain.

Namun keterasingan kita sedikit demi sedikit mulai memudar sejak satu minggu yang lalu. Satu minggu yang lalu, tepatnya di hari Minggu, aku dan keluargaku pergi berwisata. Kemudian aku upload status di whatsapp, video saat aku dan keluargaku naik perahu. Saat itulah kebekuan keterasingan kita mulai sedikit pecah. Namun tetap saja pembicaraan kita terasa kaku jika dibandingkan dengan pembicaraan-pembicaraan kita dulu. Rara kelihatannya juga masih takut untuk bercanda denganku.Tapi aku salut pada Rara karena dia memberanikan dirinya untuk mengirim pesan setelah aku mengabaikan pesan-pesan dia sebelumnya. Namun sejak hari itu sedikit demi sedikit aku mencoba menggoda Rara untuk bercanda denganku lagi. Aku ingin suasana pembicaraan kita Kembali seperti dulu.

Dan ya, hari ini aku memberanikan diri pergi ke rumahnya Rara. Sebenarnya aku masih merasa sedikit canggung. Namun, aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk menghabiskan waktu-waktu terakhir dengan sahabatku sejak kelas satu SMA itu. Karena dia bilang dia akan melanjutkan studynya di Japang, dan kemungkinan dia tidak akan pergi ke Indonesia sebelum dia lulus. Karena, orang tuanya juga bekerja di Jepang.

“LISA!” teriak Rara yang membuat jantungku hampir copot

“Masuk dulu yuk” sambungnya.

“Aku mau ajak kamu keluar, tapi tunggu dulu ya. Aku mau siap-siap dulu” kata Rara.

“Bi, tolong buatin coklat panas buat Lisa ya”.

“Baik, neng” kata Bi Surti, pembantu Rara. Bi Surti adalah orang Jawa. Dia memang orang yang sangat baik. Keluarga Rara begitu mempercayainya. Bi Surti jugalah yang selama ini mengasuh dan menemani Rara selama orang tua Rara di Jepang.

“Ini, neng. Silahkan diminum.” Kata Bi Surti

“Terima kasih, Bi” ucapku.

Aku menikmati coklat panas Rara sambil melihat-lihat ruang tamu Rara. Tiba-tiba pandanganku terhenti saat aku melihat fotoku dan Rara di mading pojok ruang tamunya. Di foto itu kita terlihat begitu ceria. Kala itu kita memang begitu dekat. Rasanya aku sangat menyesal karena egoku membuat keceriaan itu jauh dari persahabatan kita.

“Sa, ayo” panggil Rara memecah renunganku.

Rara mengambil scoopy merahnya dari garasi. Masih seperti kala itu, Rara lah yang memboncengkanku. Karena, aku masih belum mahir membawa motor. Tidak heran jika aku memboncengkan orang lain, mereka selalu istighfar di sepanjang jalan.

“Turun, Sa” kata Rara di parkiran taman. Itu adalah taman yang sering kita kunjungi untuk menghabiskan waktu-waktu kita dulu. Kemudian kita berbincang-bincang cukup lama. Setelah sang mentari tepat di atas kita, Rara mengajakku pulang, karena ada beberapa barang yang belum dia persiapkan untuk berangkat ke Jepang besok. Ahh… rasanya aku ingin menghentikan perputaran waktu saat itu.

Setelah sampai di rumahnya Rara, dia bilang padaku “Sa, besok aku berangkat setengah 10. Mungkin aku berangkat ke bandara pukul 09.00. Aku nggak maksa kamu buat anterin aku ke bandara. Tapi aku harap setidaknya besok kita bisa bertemu meskipun itu di rumahku”. Kalimat sederhana Rara membuatku benar-benar geram ingin menghentikan perputaran waktu.

“Neng, ada telpon dari ayah neng Rara” Tiba-tiba Bi Surti memanggil dari dalam.

“Ya udah Sa, aku masuk ya. Sampai jumpa besok.”

“Eh, bentar Ra”. Ucapku sambil meraih tangannya.

“Ra… mm… aku minta maaf. Karena egoku kita harus berkonflik dan membuat kamu merasa bersalah. Aku juga minta maaf karena saat itu aku mengabaikan pesan-pesanmu. Padahal kamu udah minta maaf berkali-kali. Dan seharusnya kita bisa menghabiskan dua bulan terakhir ini dengan keceriaan, kesenangan, dan candaan. Aku bener-bener nyesel, Ra”.

Rara hanya menatapku, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian dia tersenyum padaku dan masuk ke dalam rumahnya.

Keesokan harinya aku mengambil boneka panda di lemariku yang sudah lama terbungkus plastik. Itu adalah hadiah ulang tahunku satu tahun yang lalu. Aku ingin memberikannya pada Rara. Di tengah aku membungkus boneka itu, tiba-tiba ibu memanggilku.

“Sa, ke sini sebentar, nak”.

“Ada apa, bu?” Tanyaku sambil mendekat.

“Nak, hari ini ada rapat murid di sekolah adikmu. Mungkin ini berkaitan dengan ujian adikmu. Tapi ibu lagi nggak enak badan nak. Nanti tolong kamu ke sekolahnnya ya, mewakili ibu”.

“Ha? kira-kira sampai jam berapa ya, buk?” tanyaku “Soalnya aku mau pamitan sama Rara. Hari ini dia akan berangkat ke Jepang,” tambahku pada Ibu.

“Oh… Rara berangkat hari ini? Mau berangkat jam berapa dia? Kalau rapat adikmu mungkin sampai pukul 9, nak,” kata Ibu.

“Aduhhh Rara berangkat ke bandara pukul 9, Bu. Tapi gapapa lah, nanti kalua dia udah berangkat, aku nyusul ke bandara”.

Akhirnya aku berangkat ke sekolah adikku sambil sekalian membawa boneka yang telah aku bungkus. Dan benar seperti kata ibu, rapatnya berakhir pukul 09.00. Setelah rapat selesai, aku langsung menuju rumah Rara. Tapi di situ aku hanya memjumpai Bi Surti. Dan Bi Surti bilang, Rara sudah berangkat ke bandara. Akhirnya aku buru-buru ke bandara. Aku memberanikan diriku mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Saat di bandara aku mengirim pesan ke Rara bahwa aku sudah sampai di bandara. Aku berjalalan, melihat-lihat, dan berusaha mencari Rara. Kemudian Rara membalas pesanku. Dan… saat itulah aku sulit menerima keadaan.

“Sa, pesawatnya udah berangkat sekitar 8 menit yang lalu. Makasih karena kamu udah bela-belain datang ke bandara. Gapapa kita nggak bisa bertemu hari ini. Jika Tuhan berkehendak, kita akan bisa bertemu lagi setelah aku balik ke Indonesia. Dan untuk konflik, jangan terlalu disesalkan. Memang akhirnya waktu mengajarkan hal berharga bagi kita. Kita tidak seharusnya membuat manisnya persahabatan kita hilang begitu saja karena kurang kedewasaannya kita. Dan kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri atas konflik kita waktu itu. Sesendok garam tidak akan membuat segudang gula menjadi asin. Kenangan-kenangan indah kita sejak kelas satu SMA jauh lebih banyak dan lebih ku kenang daripada konflik kita. Oiya, aku punya sesuatu buat kamu, aku titipin ke Bi Surti. Daa… sampai jumpa lagi sahabatku.”

Dan saat itulah aku berusaha menerima keadaan dan mengakui bahwa waktu mengajarkan hal berharga bagi kita.

Rahma_

Suber gambar: Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *