Abadi Tapi Bisu

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kata Pramoedya Ananta Toer, dalam karyanya tetralogi Pulau Buru.

Tak bisa dipungkiri, bahwa kutipan di atas adalah benar. Orang dapat mengubur eksistensi, namun tidak dengan entitas dirinya. Menulis ibarat memperkenalkan pribadi kepada pembaca yang berada dalam lintas ruang dan generasi. Boleh jadi, tulisan ini akan dibaca oleh anak cucu seribu tahun ke depan. Maka tak salah, bila Pram menyebut menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Namun, kurang elok rasanya bila menulis hanya diniatkan untuk memuaskan hasrat pribadi. Keabadian adalah contoh hasrat pribadi, meski keabadian yang dimaksud Pram ialah keabadian yang bukan dalam bentuk fisik, namun menghadirkan diri saat raga telah mati dalam bentuk gagasan. Tapi, apa gunanya hadir bila hanya sekadar ‘setor nama’?

Menilik hakikat menulis, harus kita tarik lebih jauh pada saat manusia mulai saling berkomunikasi. Pada hakikatnya, manusia berkomunikasi menggunakan simbol. Bahasa dan tulisan merupakan simbol agar komunikasi dapat ditangkap oleh indera. Pada akhirnya, yang terpenting dalam sebuah kedua itu adalah menyampaikan pesan. Hingga ada anggapan, bahwa jika manusia sudah dapat saling menyampaikan pesan tanpa perantara itu, maka takkan perlu lagi berbahasa dan menulis.

Mari kita amati fenomena berbagai agama besar di dunia. Agama mana yang firman Tuhannya tidak ditulis? Agama mana yang jumlah penganutnya ratusan juta, namun tak memiliki tulisan satu pun? Padahal, ditulis maupun tidak firman-Nya, Tuhan akan tetap abadi menurut kepercayaan penganutnya masing-masing. Tapi, penulisan firman Tuhan bukan untuk membuat-Nya menjadi abadi, melainkan untuk menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan dan Ketuhanan.

Maka sungguh disayangkan apabila menulis hanya diniatkan untuk mencapai entitas keabadian pribadi. Lebih kasar, dapat kita kemas dengan bahasa “memikirkan diri sendiri.” Keinginan eksis dalam konteks apapun adalah pemikiran manusia ketika tak dapat menghindari kematian yang sifatnya absolut.

Biasanya, semangat literasi seperti ini muncul karena terinspirasi dari tokoh-tokoh besar, seperti Gus Dur yang tulisannya sudah tersebar seantero jagat, atau Aristoteles yang tulisannya hampir ada di tiap perpustakaan. Berharap dengan menulis, bisa jadi seperti orang-orang besar ini.

Tujuan menulis seperti ini bisa jadi berbahaya. Bertujuan untuk keabadian dan ketenaran memang bisa menjadi stimulus energi dan nafsu untuk berkarya, namun tidak untuk terus berkarya. Lebih jauh, literasi hanya akan menjadi “panas-panas tai ayam,” semangat di awal, loyo di akhir. Takjub akan hasil akhir memang lebih dominan sebagai penilaian suatu keberhasilan, bukan proses. Terlebih, hasil akhirnya melampaui kemampuan fisik absolut, seperti keabadian

Banyak penulis pemula yang berusaha menulis sebanyak, sebagus, hingga seramai mungkin demi mencapai keabadian ini. Namun, ketika melihat tulisannya jarang dilirik, bahkan dikritik, hingga menyadari bahwa tulisannya tidak lebih bagus daripada yang mengkritik. Lalu seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit keluar dari aktivitas tersebut. Beranggapan bahwa dirinya dengan tulisan tersebut tidak akan mencapai keabadian dari sekian banyak tulisan yang beredar saat ini.

Selanjutnya, menulis hanya menjadi bahan masturbasi kekaguman pada akumulasi pengetahuan pribadi. Menulis hanya sekadar agar terlihat lebih baik daripada yang tidak menulis. Lebih jauh, menulis hanya dijadikan alat ‘setor nama’ pada generasi mendatang. Hingga akhirnya, kita menjadi abadi tapi bisu.

Padahal, bila kembali kepada hakikat menulis, yaitu menyampaikan pesan, maka tidak akan ada tulisan yang tidak bermanfaat. Tulisan yang salah pun akan menjadi contoh yang salah. Tulisan yang tidak sesuai fakta pun akan menjadi peringatan untuk kita terus mencari kebenaran.

Maka, ada baiknya bila kita menafsirkan kebijaksanaan Pram bukan dari sisi eksistensi, melainkan esensi. Bagaimanapun, keabadian yang elok adalah tidak hanya setor nama pada generasi mendatang, melainkan untuk upaya transfer ide dan gagasan yang bermanfaat bagi mereka. Menjadikan pengalaman di masa ini sebagai kebijaksanaan di masa depan. Bukan dirinya yang abadi, melainkan kebijaksanaan.

Toh, apabila nama kita abadi setelah mati, apa yang kita dapat? Kita tidak akan melihat orang mengelu-elukan nama kita sebagaimana kita sekarang terhadap Plato, tapi kita berhasil mengambil kebijaksanaan dari berbagai karyanya.

Sekarang pertanyaannya adalah, pesan apa yang harus disampaikan? Tentu, pesan yang tidak hanya ingin kita simpan sendiri, pesan yang tidak ingin hanya kita yang membaca, pesan yang disampaikan karena peduli terhadap orang lain. Maka, menulislah karena orang lain, karena ingin berbagi, karena peduli, karena untuk kebebasan, dan yang terpenting karena cinta, maka keabadian akan mengiringi namamu sebagaimana orang-orang terdahulu menulis untuk saat ini.

Muhammad Izmul Ruliazmi

Mahasiswa Teknik Sipil

Universitas Islam Indonesia

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *